Mercinews


Kala Dara Belia Aceh Memilih Iman Kristen

Banda Aceh, Mercinews.com – Dua jam duduk dalam kelas konseling, J, salah seorang kepala sekolah di salah satu SMP di Banda Aceh, nyaris kehilangan bahan untuk membangun logika diskusi. AS, dara belia siswi kelas IX yang ada di hadapannya begitu mahir berbicara tentang iman Kristen. Tapi J tak patah arang, naluri pendidiknya menuntut jiwanya untuk berjuang lebih keras. Ia wajib menyelamatkan dara belia itu dari jerat kekafiran.

Pada tanggal 1 Oktober 2018, J dan segenap pengurus sekolah berhasil membongkar aksi pemurtadan yang dilakukan oleh NS, seorang misionaris yang aktif merekrut orang Aceh untuk berpindah keyakinan ke agama Kristen. Setidaknya, 13 orang yang selama ini telah memilih pindah keyakinan, berhasil dibongkar.

J tentu tidak sendiri. Gerakan perjuangan penyelamatan aqidah itu dia lakukan bersama dengan Tim Pelaksana Penguatan dan Penyelamatan Aqidah Umat Islam di Kota Banda Aceh. Tim ini dibentuk oleh Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman pada 19 November 2018.

Aminullah Usman menaruh keseriusan tentang gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh NS melalui yayasan yang ia pimpin. Begitu mendapatkan kevalidan informasi, Aminullah Usman segera membentuk tim “reaksi cepat” untuk menanggulangi misi pemurtadan di Serambi Mekkah. Segenap pihak dilibatkan di dalam tim khusus ini.

***
Data yang didapatkan aceHTrend dari sumber-sumber kredibel ditambah data pemeriksaan dari Dinas Dayah Kota Banda Aceh, yang diterima Rabu (19/12/2018) Dijelaskan kisah awal terbongkarnya kasus tersebut.

Semua berawal dari kecurigaan pihak sekolah tempat AS menempuh studi menengah pertamanya. Pada pertengahan 2017 pihak sekolah mendengar bila salah seorang siswinya sudah berpindah agama ke Kristen. Pihak sekolah pun memgamati gerak-gerik sang siswa yang masih sangat belia.

Di antara tingkah laku AS yang dinilai menyimpang adalah seringnya beralasan haid ketika kegiatan mengaji pada awal dimulainya Proses Belajar Mengajar (PBM). Demikian juga kala diniyah sore hari di sekolah, dia selalu minta izin dengan alasan les bahasa Inggris di luar.

Tak tinggal diam, pihak sekolah pun akhirnya melakukan konseling tahap pertama terhadap AS. Pada saat konseling dilakukan AS memastikan dirinya muslim dan tidak terpengaruh dengan Bunda Asuhnya yang berinisial NS yang beragama Kristen. Selanjutnya pihak sekolah memanggil NS untuk klarifikasi. Ternyata NS bersumpah atas nama Tuhannya bahwa dia tidak pernah menarik AS dan lainnya ke dalam iman Kristiani.

Baca juga:  SBY: Jangan Benturkan Islam dengan Pancasila

Tapi pihak sekolah tidak serta merta percaya pengakuan keduanya. Pada saat konseling ke II pihak sekolah memerintahkan AS untuk melaksanakan praktik salat dengan bacaannya dengan suara yang dapat didengar. Ternyata dia sudah lupa urutan bacaan salat. Pada akhirnya AS mengaku sudah sekian lama tidak melakukan salat dan mengaji.

Dari temuan itu, pihak sekolah dimotori oleh J selaku kepala sekolah, melakukan wawancara mendalam. Di situ kemudian AS mengaku bahwa telah berpindah keyakinan sejak kelas VI SD. J dan ibunya AS terkejut. Sang ibu pun histeris, ia menangis, antara kecewa dan tidak terima. Ternyata NS telah berhasil membelokkan iman sang putri, sejak sang anak masih sekolah dasar.

“Dari hasil konseling ini kami menduga telah terjadi pemurtadan yang dilakukan oleh NS secara terstruktur, sistematis dan massif,” ujar J, seperti tertulis dalam laporan yang dibuat oleh Dinas Dayah Kota Banda Aceh.

Kedok Kegiatan Sosial

Berkedok kegiatan sosial dan kemanusiaan para korban direkrut dari keluarga miskin dan broken home.

Pada tahun 2011 NS merekrut RW yang saat itu masih kelas I SMP di Aceh Besar. Kemudian mempekerjakan ibunya sebagai cleaning service di kantor dan tukang masak di rumahnya. Keluarga ini berlatar belakang korban tsunami.

Berdasarkan cerita AS, tim kemudian berkunjung ke rumah RW dan bertemu dengan ibunya. Sementara RW tidak ada di rumah karena sedang berada di sekolah. Setelah kunjungan kami ke rumah, ibu RW merasa penasaran dan bersama Rini pergi ke sekolah untuk klarifikasi.

RW bercerita di kelas I SMP dia dibawa ke Medan Sumatera Utara dan menginap di HolyKids Bersinar dan dibawa ke gereja yang berdekatan dengan HolyKids untuk dibaptis. Saat itu RW dalam kondisi sakit parah.

Perlu diketahui HolyKids bersinar merupakan yayasan sekolah Kristen yang tenaga pengajarnya seluruhnya pendeta dan biarawati.

Baca juga:  SBY: Jangan Benturkan Islam dengan Pancasila

Disebutkan, sejak RW sakit-sakitan, NS sering berkunjung ke rumahnya untuk membezuk dengan membawa bantuan dan makanan. Pada saat makan bersama pada acara kunjungan tersebut NS mengajak berdoa secara kristiani.

RW dibaptis yang kedua di Samosir Danau Toba. Pembaptisan itu bersamaan dengan AS. RW dibekali kitab Injil agar terus dibaca di rumah.

Awal mula AS bertemu dengan NS adalah kala ibunya menitipkan sang anak kepada NS ketika kelas VI SD. Anak tersebut dititipkan oleh ibunya ke sana karena ada persoalan rumah tangga dengan suaminya yang kedua.

Oleh NS membawa AS ke Medan dan juga menuju HolyKids Bersinar. Kemudian dibawa ke gereja dan diberi minum anggur dalam cawan serta roti di depan jemaat Kristen lainnya sebagai simbol pengakuan tentang Yesus (Baptis).

Saat ini kemampuan AS memahami Injil sudah sangat tinggi. Dia mampu menghafal ayat-ayat dalam Injil dan mampu menyampaikan ajaran ini kepada orang lain dengan baik. Kegiatan mereka tertutup dengan rapi karena NS selalu memberikan doktrin yang sifatnya mengancam agar tidak memberitahu orang lain.

Jika sampai ketahuan oleh orang lain, maka NS yang dipanggil Bunda dan semua anak rekrutan akan dihukum. Demikian rapinya AS menyimpan rahasia, sehingga ibunya sendiri tidak mengetahui hal ini.

Setiap liburan sekolah AS selalu pergi ke Medan mengikuti proses Kesaksian di depan jemaat gereja dan menurut pengakuannya selalu tinggal di HolyKids Bersinar. Kesaksian yang sudah dilakukan AS ada empat kali yaitu pertama kali di gereja Medan, kedua kali di Parapat di depan orang luar negeri, ketuga kalinya di Gereja Brastagi dan keempat di Gereja Pulau Samosir (Danau Toba).

Hal lainnya, pada saat AS kelas VIII SMP pernah membawa injil ke sekolah, padahal dia masih mengaku Islam.

Iming-iming Masa Depan

Dari hasil pemeriksaan tim, hal yang membuat AS dan beberapa orang lain mantap memilih iman Kristen karena mendapatkan janji yang menggiurkan.

Seperti akan disekolahkan ke luar negeri, serta dijanjikan akan diberikan fasilitas dan ditanggung biaya hidup selama masih dalam iman Kristen.[]

Sumber: acehtrend

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.