Aceh

Ada Hukum Adat Jika Hari Pantang, Melaut di Aceh

kapal nelayan parkir di area Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Pusong( foto: antara)

Lhokseumawe, Mercinews.com – Pantangan melaut menjadi hal yang sakral di Aceh, sebagaimana pantauan media ini sejumlah kapal nelayan parkir di area Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Pusong pada hari pantangan melaut di Lhokseumawe, Aceh, Jumat (6/9/2019).

Hukum Adat Laot tersebut merupakan perpanjangan aturan dari syariat Islam yang hingga kini masih diberlakukan di Aceh.

Setiap Panglima Laot punya kuasa menjaga ketertiban Hukum Adat Laot yang mesti dipatuhi oleh para nelayan di masing-masing gampong.

Baca juga:  14 ABK Asal Aceh yang Dituduh Curi Ikan di Myanmar Dipulangkan

Aturan tersebut diberlakukan mengingat sejarah Aceh sebagai wilayah persinggahan lalu lintas bahari di jalur perdagangan Selat Malaka.

Hukum adat tersebut mengatur tata cara penangkapan ikan di laut (meupayang), penetapan waktu penangkapan ikan, penyelesaian sengketa atau perselisihan antarnelayan, dan pelaksanaan ketentuan adat serta pengelolaan upacara-upacara adat nelayan.

Ada baiknya bagi para pelancong yang hendak berwisata ke Aceh baik ke Sabang terlebih dulu mengenal aturan adat.

Baca juga:  KBRI belum bisa jumpai 23 nelayan Aceh di Myanmar

Hukum adat laut Aceh menetapkan seluruh nelayan wajib menghormati hukum adat libur melaut pada hari Jumat dengan sanksi bagi pelanggar tidak dapat melaut selama 2 bulan dan membayar denda sebesar Rp10 juta.

pantangan libur melaut itu juga berlaku menjelang Idulfitri, Iduladha, Peringatan tsunami Aceh 26 Desember dan setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. [m/]

Comments