Amerika

Ancaman Perang Nuklir di Masa Depan Semakin Nyata

Rusia luncurkan dua misil balistik dari kapal selam bertenaga nuklir.

New York, Mercinews.comRusia meluncurkan dua misil balistik dari kapal selam bertenaga nuklir di Samudra Artik dan Laut Barents. Amerika Serikat (AS) tetap mempertahankan penempatan senjata nuklirnya di lima negara anggota NATO, yakni Italia, Jerman, Belgia, Belanda, dan Turki. Itu menunjukkan ancaman perang nuklir kedepannya semakin nyata.

Peluncuran misil yang bisa membawa hulu ledak nuklir Rusia itu sebagai bagian dari latihan perang. “Kapal selam bertenaga nuklir Tula dan Yuri Dolgoruky meluncurkan misil balistik Sineva dan Bulava dari wilayah lingkaran kutub Samudra Artik dan Samudra Barent,” demikian keterangan Kementerian Pertahanan Rusia, dilansir CNN. Latihan peluncuran misil itu dilaksanakan pada Sabtu (24/8) lalu.

Peluncuran misil itu terjadi setelah dua pekan lima ahli nuklir tewas dalam ledakan di salah satu fasilitas nuklir rahasia di Sarov, Rusia, pada 8 Agustus lalu. Seluruh kota itu telah mendeklarasikan duka mendalam selama beberapa hari. “Ledakan yang terjadi selama uji coba merupakan sistem senjata baru yang menjanjikan,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin.

Namun, tidak jelas apakah ledakan tersebut merupakan nuklir atau bukan. Otoritas di Rusia masih mendeteksi tingkat radiasi di lokasi pelatihan militer tersebut. Ada kekhawatiran dari berbagai pihak bahwa ledakan tersebut merupakan bom nuklir. Sementara melansir Guardian, Badan Cuaca Rusia kemarin melaporkan telah menemukan isotop radioaktif dari uji coba sampel di sekitar lokasi ledakan di markas militer.

Rusia memilih menutup kota Sarov dan memberlakukan pengawasan ketat di wilayah sekitarnya. Mereka ingin menjamin tidak ada orang luar yang mengetahui apa yang terjadi di sana. Sarov sebenarnya hanya satu dari 40 kota tertutup yang dimiliki Rusia. Sarov pertama kali didirikan pada 1940-an, dengan sebutan ZATO yang menjadi pusat penelitian militer.

Pakar nuklir berbasis di AS menduga insiden itu terjadi pada uji coba misil berkekuatan nuklir, sedangkan lembaga pengawas uji coba nuklir berbasis di Norwegia, Norsar, mengungkapkan bahwa ledakan awal dan diikuti ledakan kedua dengan selisih dua jam menghasilkan radiasi. Senjata nuklir juga tidak hanya digunakan untuk berperang.

Baca juga:  AS Ancam Jatuhkan Sanksi Terbesar Dalam Sejarah pada Iran

Nuklir itu juga bisa dijatuhkan ke badai sebelum menghantam wilayah AS. Ide itu diusulkan oleh Presiden AS DOnald Trump saat rapat tentang badai. Ternyata, Trump bukan pertama kali yang mengusulkan hal tersebut. Sebelumnya pada 2017, dia meminta pejabat seniornya apakah diperbolehkan pemerintahannya menjatuhkan bom nuklir untuk mencegah badai mencapai daratan.

Gedung Putih berkomentar bahwa tujuan Trump itu tidak terlalu jelek. Ide Trump itu juga bukan hal baru. Hal itu pernah diusulkan oleh ilmuwan pemerintah pada 1950-an di bawah kepemimpinan Presiden Dwight Eisenhower. Sebelumnya, Trump mengungkapkan keputusan untuk keluar dari INF (Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah) pada Februari lalu dengan enam bulan pemberitahuan.

Dia menyalahkan Rusia karena mengembangkan senjata nuklir dan melanggar trakta tersebut. “Saya pikir kita akan mengakhiri penyusunan kesepakatan dengan Rusia karena kita tidak membutuhkannya,” kata Trump. Putin berjanji akan melakukan respons simetris jika AS melakukan uji coba misil. Dia mengungkapkan uji coba misil yang dilakukannya sebagai komplain terhadap pemasangan pertahanan misil AS di Rumania dan Polandia.

“Politikus AS pada tataran tinggi mengungkapkan penempatan sistem baru diawali di kawasan Asia-Pasifik, tetapi juga menyentuh kawasan vital kita dan berdekatan dengan perbatasan Rusia,”kata Putin dilansir Telegraph. Dia memerintahkan kementerian pertahanan dan kementerian luar negeri untuk menganalisis ancaman terhadap Rusia dan menyiapkan langkah respons simetris.

Sementera itu, perang nuklir antara AS-Rusia bisa menyebabkan bumi mengalami musim dingin selama 10 tahun. Itu merupakan peringatan dari para ilmuwan. Serangan misil balistik akan menyebabkan 147 juta ton debu yang menutupi atmosfer dan menghalangi sinar matahari selama bertahun-tahun. Para pakar memprediksi musim dingin itu selama 10 tahun untuk kembali normal dengan rata-rata temperatur 9 derajat Celsius.

Baca juga:  Donald Trump Ancam Bikin Riwayat Iran Tamat!

Ilmuwan atmosfer Joshua Coup dari Universitas Rutgers mensimulasi bagaimana dampak perang nuklir terhadap perang nuklir. Dia bersama tim ahli lainnya membandingkan kajian yang dilakukan NASA tentang prediksi musim dingin panjang. “Serangan bom nuklir akan menjadi bom bunuh diri bagi negara yang memutuskan untuk meluncurkan serangan,”kata Coup dilansir The Sun.

“Penggunaan senjata nuklir oleh AS dan Rusia akan memberikan dampak bencana secara global,” ujarnya. Selain AS dan Rusia, banyak negara lain memiliki senjata nuklir. Prancis memiliki 300 senjata nuklir. Paris hanya anggota NATO yang bisa mengirimkan senjata nuklir melalui kapal selam dan pesawat tempur.

Pesawat Dassault Rafale mampu mengangkut senjata nuklir dengan hulu ledak 20 kali lebih besar dibandingkan bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima. China memiliki 290 senjata nuklir dan mengembangkan senjata nuklir sendiri. Beijing menerapkan kebijakan “tidak menggunakan yang pertama” yang berarti senjata nuklir untuk merespons serangan nuklir dari negara lain.

Kemudian, Inggris memiliki 200 senjata nuklir dan hanya bisa diluncurkan dari kapal selam Vanguard dengan program misil Trident. Inggris juga membagi perliundungan nuklirnya dengan sesama anggota NATO. Adapun Pakistan memiliki 160 senjata nuklir. Mereka juga mengembangkan misil berkekuatan nuklir yang diluncurkan dari kapal selam.

Pakistan bisa mengirimkan senjata nuklirnya dari darat dan udara. Meskipun menghadapi sanksi, Pakistan terus mengembangkan senjata nuklir dibandingkan negara lain. Musuh bebuyutan Pakistan, India, memiliki 140 senjayan nuklir.

Mereka bersitegang dengan India dengan permaslaahan utama pada Kashmir yang menuntut kemerdekaan atau bergabung dengan Pakistan. Karena konflik dengan Pakistan, banyak pakar mempertanyaan kebijakan India untuk “tidak menggunakan yang pertama kali” untuk menyerang.

 

Sumber: Sindonews