Mercinews

Budaya

Bahasa Aceh Terancam Punah Apalagi di Kota-Kota Tidak Bisa Lagi Bahasa Indatu

[email protected] Foto: Bahasa aceh

Mercinews.com – Bahasa Aceh terancam punah Lama-kelamaan bahasa Aceh hanya tinggal nama dan tidak ada yang tahu bagaimana bahasa Aceh itu sebenarnya,jangan biarkan ini terjadi untuk generasi yang akan datang,buat ibu-ibu muda,perkenalkan anak-anak anda dengan bahasa aceh,jangan jadi bangsa yang pelupa.

Bahasa menunjukkan identitas suatu bangsa. Dengan bahasa komunikasi dapat terjadi dan hubungan pun terjalin dengan baik. Bahasa akan punah jika sang penuturnya tidak mau lagi menggunakan bahasa tersebut.

Inilah yang sekarang terjadi di kehidupan kita. Keengganan masyarakat Aceh dalam menggunakan bahasa Aceh dikhawatirkan akan hilangnya bahasa ini di permukaan bumi Aceh.

Masyarakat Aceh khususnya para remaja saat ini lebih sering menggunakan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Aceh sendiri,entah karena malu atau apa, padahal mereka sama-sama mengerti bahasa Aceh.

Berbicara mengenai bahasa, ini merupakan sebuah skill yang apabila sering digunakan, kita akan lebih mahir menggunakannya. Namun apabila bahasa ini jarang digunakan, kita akan lupa satu per satu dari penggalan bahasa tersebut. Bukti nyata yang dapat kita lihat saat ini banyak penggalan bahasa Aceh yang tidak pernah kita dengar lagi atau penggunaannya diganti dengan bahasa Indonesia.

Contohnya dari sekian banyak kata yang mulai hilang seperti kata ‘camca’ (artinya sendok) sekarang sudah banyak yang langsung mengatakannya dalam bahasa Indonesia “sendok” dan boh limo juga terkena pengaruh bahasa Indonesia banyak yang langsung menyebutnya dengan “boh jeruk”. Begitu juga dengan kata ‘kakôh’ (artinya jamban) dan ‘geutangen’ (artinya sepeda).

Dan masih banyak lagi bahasa aceh yang hampir punah,sangat di sayangkan jika ini terjadi,karena secara tidak sadar kita telah membuang bahasa indatu kita,dan menggantikan nya dengan bahasa nasional.

Pengaruh lainnya berupa dialek dan intonasi bahasa Aceh. Banyak masyarakat Aceh sekarang yang menggunakan bahasa Aceh dalam intonasi rendah, seperti kata ‘ureueng’ (orang) intonasinya lebih mendalam, banyak yang mengatakan dengan kata ‘ureung’ yang intonasinya lebih dangkal, kata ‘keubeue’ (kerbau) juga demikian, dan sebagainya.

Baca juga:  Nova Iriansyah: Pengusaha Lokal jangan Semata Bergerak di Sektor Jasa

Ada juga orang yang bisa berbahasa Aceh, tapi logatnya dibuat seolah-olah tidak bisa berbahasa Aceh sehingga kedengarannya seperti orang luar yang baru bisa belajar bahasa Aceh atau istilahnya tilô. Pengucapannya tidak kental lagi terdengar sepeti orang Aceh aslinya.

Aceh bukanlah masyarakat yang terdiri dari satu suku berupa Aceh saja, tapi ada sekitar 14 suku. Setiap suku tersebut mempunyai bahasa sendiri yang telah berasimilasi dengan bahasa Aceh sehingga menghasilkan bahasa baru, seperti bahasa Jamee, yaitu asimilasi antara bahasa Minang dan Aceh.

Sebagian mereka yang bukan asli suku Aceh, seperti suku Gayo misalnya, tidak menggunakan bahasa Aceh dalam berkomunikasi, tapi menggunakan bahasa yang didapat dari orang tua mereka atau biasa disebut dengan bahasa ibu. Akibatnya, dalam kesehariannya mereka lebih dominan menggunakan bahasa dari suku mereka ketimbang menggunakan bahasa Aceh.

Anak-anak mereka juga menggunakan bahasa tersebut karena sebagian dari mereka ada yang tidak bisa berbahasa Aceh. Jadi, bahasa yang diajarkan pertama di keluarga ialah bahasa dari suku mereka.

Ketika anak-anak mereka masuk sekolah, bahasa selanjutnya yang dipelajari ialah bahasa Indonesia. Ini karena kurikulum sekolah mewajibkan siswa untuk bisa berbahasa Indonesia dan mata pelajaran Bahasa Indonesia pun terdapat dari tingkat dasar hingga sekolah atas.

Adapun untuk Bahasa Aceh sangat sedikit disinggung dan bahkan terkadang pelajaran Bahasa Aceh merupakan mata pelajaran muatan lokal atau istilahnya mata pelajaran tambahan. Biasanya hanya terdapat di sekolah dasar saja, sedangkan untuk sekolah lanjutan berikutnya mata pelajaran Bahasa Aceh tidak ada lagi.

Yang berasal dari suku aneuk Jamee pasti merasakan hal tersebut. Saat berada di bangku sekolah dulunya,Tidak mendapatkan pelajaran khusus tentang bahasa Aceh, baik itu cara pengucapannya maupun cara penulisannya.

Lingkungan tempat tinggal pun juga tidak ada yang berbahasa Aceh sehingga bahasa Aceh sangat jarang sekali didengar atau diaplikasikan dalam berkomunikasi.

Yang berasal dari suku aneuk jamee mempunyai bahasa daerah, yaitu Jamee (mirip bahasa Minang) biasanya menggunakan bahasa tersebut dalam keseharian, sedangkan bahasa Aceh sangat jarang terdengar.

Baca juga:  Disporapar Kota Lhokseumawe mengadakan pelatihan pemandu wisata

Akibatnya sampai kapanpun tidak bisa berbicara bahasa Aceh dengan fasih, padahal kita adalah orang Aceh tulen. Jika tidak di biasakan belajar bahasa Aceh sangatlah susah untuk mengikuti logat orang Aceh.

Seiring berjalannya waktu, tampaknya minat masyarakat Aceh dalam menggunakan bahasa Aceh semakin berkurang. Perhatiannya pun untuk memelihara bahasa Aceh juga berkurang. Bahkan ketika ada orang yang berbicara bahasa Aceh dengan logat asli Aceh, atau yang disebut dengan meukeulidoe malah menjadi bahan tertawaan.

Akibatnya banyak yang malu untuk menampakkan keaslian Acehnya sehingga muncullah Aceh jadi-jadian, yaitu orang yang bisa bahasa Aceh, tapi logatnya telah diubah menjadi logat bahasa Indonesia.

Lebih jelasnya lagi terlihat pada masyarakat di perkotaan, bahkan sekarang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Aceh.

Para orang tua pun tidak lagi mengajarkan bahasa Aceh kepada anak-anak mereka sehingga anak-anak Aceh merasa asing dengan bahasa mereka sendiri.

Apa jadinya Aceh ini ke depan? Lama-kelamaan bahasa Aceh hanya tinggal nama dan tidak ada yang tahu bagaimana bahasa Aceh itu sebenarnya.

Kita sebagai masyarakat Aceh harusnya berbangga hati dengan bahasa yang kita punya karena bahasa Aceh adalah suatu yang unik.

Kita memang tinggal di negara Indonesia, tetapi mempunyai budaya dan ciri khas tersendiri. Keberagaman inilah yang membuat kita terlihat semakin unik.

Sudah sepatutnya kita sebagai masyarakat Aceh menjaga dan melestarikan bahasa Aceh. Jangan malu untuk berbahasa Aceh dan kita harus mempertahankan keasliannya karena jika bahasa tidak bisa dipertahankan, kebudayaan yang terdapat di dalamnya akan sangat mudah lenyap mengikuti alur kemajuan penggunanya.

Semoga dengan tulisan ini, kita bisa menyadari betapa pentingnya menjaga bahasa karena dengan bahasalah kita mengetahui identitas suatu bangsa.

Penulis berharap kita masyarakat Aceh tidak malu lagi menggunakan bahasa Aceh dan yang belum bisa bahasa Aceh agar segera belajar.

Comments