Mercinews

Internasional

Bashar al-Assad Serukan Seluruh Pasukan Asing Ilegal Hengkang dari Suriah

Presiden Republik Arab Suriah Bashar Al-Assad.

Damaskus, Mercinews.com – Presiden Bashar al-Assad menyerukan seluruh pasukan asing ilegal meninggalkan wilayah Republik Arab Suriah. Dia juga meminta Turki menghentikan agresi secara penuh di Suriah timur laut.

Presiden Suriah membuat pernyataan itu dalam pertemuan dengan delegasi Moskow yang dipimpin oleh utusan khusus Rusia untuk Suriah Alexander Lavrentyev di Damaskus pada hari Jumat.

“Assad mengonfirmasi bahwa upaya harus diarahkan untuk mengakhiri agresi (Turki) ini dan penarikan semua pasukan ilegal, termasuk tentara Turki dan Amerika, dari wilayah Suriah karena mereka dianggap sebagai pasukan pendudukan di bawah konvensi internasional,” kata layanan pers pemerintah Suriah, seperti dikutip Sputniknews, Sabtu (19/10/2019).

Lavrentyev menggarisbawahi dukungan tegas Rusia atas kedaulatan Suriah dan integritas wilayahnya.

Pertemuan pada hari Jumat itu digelar sehari setelah Assad berjanji bahwa Damaskus akan memberikan tanggapan yang relevan atas operasi militer Ankara.

“Apa pun slogan-slogan palsu yang bisa dibuat untuk serangan Turki, itu adalah invasi dan agresi yang mencolok. Suriah telah sering menyerang proksi dan teroris (yang didukung Turki) di lebih dari satu tempat. Suriah akan menanggapi serangan itu dan menghadapinya di mana saja di wilayah Suriah melalui semua cara yang sah yang tersedia,” kata Assad dalam pembicaraannya dengan Penasihat Keamanan Nasional Irak Falih al-Fayyadh.

Baca juga:  Suriah Tegaskan Tak Ada Pembahasan Soal Penarikan Pasukan Iran

Sikap tegas Assad itu disampaikan ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Wakil Presiden Amerika Serikat Michael Pence mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan gencatan senjata yang akan berlangsung 120 jam untuk memungkinkan penarikan pasukan Kurdi dari Suriah timur laut ke jarak sekitar 30 kilometer (sekitar 20 mil) dari perbatasan Suriah dengan Turki.

Pejabat senior Kurdi Aldar Khalil memuji kesepakatan gencatan senjata. Sedangkan penasihat politik Presiden Assad, Bouthaina Shaaban, menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata itu tidak jelas dan pemerintah Suriah tidak akan menerimanya.

“Adapun istilah ‘zona keamanan’, itu tidak benar, apa yang sebenarnya disiratkan Turki adalah zona pendudukan,” katanya.

Presiden Dewan Eropa Donald Tusk menegaskan bahwa gencatan senjata di Suriah timur laut yang disepakati oleh Amerika Serikat dan Turki tidak cukup.

Baca juga:  Ledakan Bom Terdengar di kota Ras al Ain Suriah Setelah Gencatan Senjata Turki-AS

“Apa yang disebut gencatan senjata, ini bukan yang kami harapkan. Sebenarnya, ini bukan gencatan senjata, ini tuntutan kapitulasi Kurdi. Saya pikir kita harus sangat konsisten di sini, menyerukan agar Turki segera mengakhiri tindakan militernya dan menarik pasukannya serta menghormati hukum kemanusiaan internasional,” kata Tusk.

Seperti diketahui, pada 9 Oktober 2019, Erdogan mengumumkan peluncuran “Operation Peace Spring” di Suriah timur laut. Ankara memindahkan pasukan ke wilayah itu setelah penarikan pasukan AS dari wilayah yang menjadi tempat bagi Washington membantu sebagian besar milisi Kurdi dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Sebagian besar milisi Kurdi adalah bagian dari Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), yang oleh Turki dianggap sebagai teroris.

Damaskus mengutuk operasi militer Turki sebagai tindakan agresi asing. Sedangkan Prancis, Jerman dan Inggris telah mengembargo ekspor senjata ke Turki, di antaranya mengancam akan melanjutkan langkah-langkah politik dan ekonomi yang bertujuan menghentikan serangan Ankara. [m/]

Comments