Aceh

Bendera bintang bulan dan merah putih berkibar beriringan di Lhokseumawe

Lhokseumawe, Mercinews.com – Dalam memperingati hari perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia ke-15, bendera sangsaka dwi merah putih dan bintang bulan berkibar beriringan di halaman Masjid Islamic Center Kota Lhokseumawe, Sabtu (15/8).

Pengibaran bendera tersebut diawali dengan pengibaran bendera merah putih oleh mantan kombatan GAM kemudian dilanjutkan dengan pengibaran bendera Aceh bintang bulan yang diiringi do’a dan zikir oleh ratusan peserta upacara peringatan hari perdamaian Aceh.

Sebelumnya, mediasi sempat dilakukan oleh pihak kepolisian bersama eks kombatan GAM, namun pengibaran bendera Aceh bintang bulan tetap dilakukan meski hanya beberapa saat.

Juru bicara KPA wilayah Kuta Pase M Yasir mengatakan bahwa pihaknya melakukan pengibaran bendera Aceh bintang bulan tersebut atas dasar dari telah disahkannya tentang bendera dan lambang Aceh yang tertuang dalam Qanun nomor tiga tahun 2013 oleh DPRA beberapa waktu lalu, sehingga Qanun tersebut harus benar-benar dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh.

Baca juga:  Peringatan 13 Tahun Perdamaian Aceh Tak Lagi Meriah Sepi Pengunjung

“Setelah 15 tahun pasca damai Aceh, polemik terkait bendera dan lambang Aceh tak kunjung selesai. Pengibaran bendera bulan bintang tersebut dilakukan dengan harapan agar pemerintah pusat benar-benar serius dalam menyelesaikan butir-butir MoU Helsinki,”kata Yasir.

Ia menambahkan, dalam kegiatan ini, pihaknya berharap agar pemerintah pusat dapat berkomitmen untuk perdamaian Aceh, sehingga kedepannya rakyat di Aceh dapat menikmati arti perdamaian tersebut.

“Kami selaku rakyat Aceh kesal tidak adanya komitmen dari pemerintah pusat terhadap keinginan masyarakat Aceh sesuai butir-butir MoU Helsinki Finlandia pada tanggal 15 Agustus 2005, maka besar harapan perjanjian perdamaian tersebut,”kata mantan Ketua DPRK Lhokseumawe itu.

Baca juga:  Peringatan 13 Tahun Damai Aceh, Abu Doto Tak Diundang

Ia juga menambahkan, ini persoalan perjanjian damai antara RI dan GAM, artinya Komite Peralihan Aceh (KPA) masih bertanggungjawab terhadap Aceh dan juga untuk kepentingan rakyat Aceh dengan tujuan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat Aceh.

“Selain dari memperingati perdamaian Aceh, kegiatan hari juga bertujuan sebagai momentum dalam tuntutan realisasi butir-butir MoU Helsinki demi kesejahteraan masyarakat Aceh,”katanya.

Dalam kegiatan berlangsung aman dan damai itu turut dihadiri oleh Ketua DPRK Lhokseumawe, Ismail A Manaf, Tuha Peut KPA Wilayah Kuta Pasee, Ketua KPA Kuta Pase Mukhtar Hanafiah, sejumlah eks Kombatan GAM dan masyarakat Kota Lhokseumawe.

[]

Comments