Mercinews

Hukum

Ibu yang Aniaya Anaknya di Banda Aceh Terancam 5 Tahun Penjara

Ibu yang Aniaya Anaknya di Banda Aceh Terancam 5 Tahun Penjara/foto: beritakini

Banda Aceh, Mercinews.com – NI (32) warga Gampong Pie, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh yang melakukan penganiayaan terhadap anak kandungnya, ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolresta Banda Aceh melalui Kapolsek Ulee Lheue AKP Ismail mengatakan, pelaku dipersangkakan Pasal 80 ayat 1 dan Pasal 44 PKDRT Jo Pasal 76c UU Nomor 35 Tahun 2014 atas Perubahan UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak diancam hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 15 juta.

Ismail mengatakan, pelaku mengakui bahwa yang melakukan hal tersebut dirinya. Dia juga menyesali perbuatan yang dilakukannya serta sudah siap menerima hukuman.

“Pelaku menyesali perbuatannya, dan meminta maaf kepada seluruh lapisan masyarakat atas kejadian tersebut, dan ianya telah siap menerima sanksi yang ditetapkan pada dirinya,” kata Ismail kepada para wartawan, Senin (2/12/2019).

Baca juga:  "Pasukan orange" di Kota Banda Aceh dapat bonus Rp100 juta

Ismail juga mencerikatan kronologis kejadian bahwa peristiwa itu terjadi pada hari Jumat pagi, 29 November 2019.

Pelaku menganiaya dengan cara menyeret korban di tanah dalam posisi kepala menyentuh tanah dan bagian kaki dipegang oleh pelaku.

“Aksi itu direkam oleh NM serta disebarkan ke media sosial untuk dilakukan tindakan oleh aparat berwenang,” kata Ismail.

NI melakukan penganiayaan tersebut karena kesal terhadap korban yang selalu merusak tanaman dan mencabut tanaman cabai di perkarangan rumah milik tetangganya.

“Saat ini, pelaku mendekam di Polsek Ulee Lheue bersama anak korban yang masih kecil serta didampingi oleh keluarganya dan pihak konseling dari Dinsos Aceh dan P2TP2A,” katanya.

Baca juga:  Terkait Lelaki Seks Lelaki di Kota Banda Aceh, Aminullah ragu hasil Survei Itu!

Sementara itu, Qodrat, salah seorang pekerja sosial Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) Dinas Sosial mengatakan, ada beberapa hal yang akan dilakukan terkait kasus ini.

“Kami akan mendampingi terus anak ini selama proses hukum berlangsung, kami juga akan mendampingi korban selama proses pemulihan trauma dan rehabilitasi sosial anak,” ucap Qodrat.

Selanjutnya, pemenuhan kebutuhan dasar dan nutrisi serta memastikan pengasuhan terbaik untuk anak tetap di dalam keluarga, hal ini untuk menghindari keterpisahan anak dengan keluarga besar, dikarenakan pengasuhan yang terbaik di keluarga tetap didampingi oleh Dinsos Kota Banda Aceh, Dinsos Provinsi Aceh dan Kementrian Sosial melalui Sakti Peksos. [m/]

Comments