Mercinews

Aceh

Isak Tangis Pemuda dan Mahasiswa Warnai Aksi Demo Soal Qanun di Lhokseumawe

Aksi demo mahasiswa dan pemuda pasee di depan gedung DPRK Lhokseumawe. Foto: AJNN.Net/Sarina

Lhokseumawe, Mercinews.com – Isak tangis serta air mata dari Pemuda dan Aliansi Mahasiswa Aceh Utara dan Lhokseumawe (Pasee) mewarnai aksi demo yang berlangsung di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe, Kamis (8/8/2019).

Isak tangis itu mulai pecah ketika pemuda dan mahasiswa Aceh tersebut membentangkan bendera bulan bintang dihadapan Ketua dan anggota DPRK Lhokseumawe dan meminta dewan agar memperjuangkan bendera bangsa Aceh tersebut.

Bendera aceh

Bukan hanya dari mahasiswa dan pemuda Pasee, air mata juga terlihat mengalir dari anggota DPRK Lhokseumawe saat penyerahan bendera bulan bintang ke Dewan Lhokseumawe di depan Gedung DPRK tersebut.

“Hari ini buka mata Pemerintah Aceh, bagaimana sudah orangtua kami dulu memperjuangkan MoU Helsinki untuk kepentingan bangsa Aceh bukan hanya untuk sekelompok orang saja, bek sampe mate ayah kamoe lage manok keunong taeut (jangan sampai ayah kami mati seperti mati ayam sakit),” kata salah seorang pendemo sambil memperlihatkan bendera bulan bintang dan diwarnai isak tangis.

Lanjutnya, bendera Aceh bukanlah bendera segelintir orang, akan tetapi merupakan bendera bangsa Aceh, dan sudah diatur dalam perjanjian, akan tetapi kenapa bendera tersebut hingga saat ini belum bisa dinaikkan dan dinikmati bersama. Bendera itu bukanlah bendera sparatis akan tetapi sudah di atur dalam qanun.

“Pemerintah Republik Indonesia, bendera bulan bintang bukanlah milik pribadi GAM, akan tetapi milik bangsa Aceh, 14 tahun memperjuangkan bukanlah waktu yang singkat,” jelasnya.

Baca juga:  Plt Gubernur Aceh: Semua aspirasi akan dibawa ke penerbit izin PT EMM

Kepada Ketua DPRK Lhokseumawe, M Yasir, mereka menyerahkan bendera bulan bintang dan meminta agar bendera itu diperjuangkan, selama ini sangat banyak orang menjadi korban karena bendera tersebut, karena bendera itu bukan milik segelintir orang akan tetapi milik bangsa Aceh.

“Ini amanah kami pak Yasir, tolong kasih tahu kepada Plt Gubernur dan desak supaya menyuruh untuk mengibarkan ke seluruh pelosok yang ada di Aceh, tolong terima ini amanah kami selaku pemuda, dan kami akan tetap kawal bendera ini. Perjuangkan bendera ini pak Yasir, ini bukan bendera kalian pak, ini bendera bangsa Aceh, dan tolong perjuangkan dengan seikhlas Hati,” imbuhnya sembari menyerahkan bendera bulan bintang ke Ketua DPRK Lhokseumawe sambil berkucuran air mata.

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe, M Yasir mengaku pihaknya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan oleh mahasiswa dan pemuda pasee terkait belum selesaikan perjanjian damai antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Saya sepakat dengan apa yang disampaikan mahasiswa terhadap tidak selesainya perjanjian damai ini, dan saya juga sepakat untuk merealisasikan semua Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) yang sudah di qanunkan oleh DPR Aceh,” kata Yasir saat menjumpai mahasiswa dan Pemuda Pasee tersebut.

Sambungnya lagi, pihaknya juga setuju dengan apa yang disampaikan oleh mahasiswa terkait bendera bintang bulan bukanlah bendera sparatis, karena tidak mungkin bendera sparatis bisa berdamai dengan bendera Republik Indonesia (RI).

Baca juga:  Bendera Bulan Bintang Diturunkan, Ketua YARA Dipanggil Polda Aceh

“Jelas perjanjian damai antara RI dan GAM diakui oleh negara internasional, dan didedikasikan oleh kurang lebih 43 negara dari Uni Eropa yang turut menyaksikan langsung perdamaian Aceh dan RI tersebut,” ungkapnya.

Selaku DPRK Lhokseumawe, sambungnya, pihaknya berharap kepada pihak RI supaya benar-benar memiliki itikat baik menyelesaikan semua masalah perjanjian damai di Aceh, bukan hanya satu Undang-Undang bendera saja.

“Kami dari dewan bukan hanya tidur disini, kami juga ikut mempertahankan dan mengingat juga darah orangtua kalian yang di belakang saat memperjuangkan kemerdekaan. Kami selaku dari pihak GAM sendiri yang sudah duduk di parlemen, apabila ini semua tidak diselesaikan oleh RI, maka kami akan kembali ke jalan seperti dulu,” ungkapnya.

Lanjutnya, pihaknya berjanji apa yang disampaikan oleh mahasiswa dan pemuda pasee tersebut akan disampaikan dan koordinasi dengan provinsi. Bahkan beberapa hari lalu DPRA juga sudah koordinasi dengan Plt Gubernur terhadap pembatalan qanun bendera, yang heboh benerapa pekanlalu.

“Mungkin ada satu kesepakatan antara Aceh dan RI untuk selesaikan qanun bendera, kami ingin qanun yang sudah disahkan oleh DPRA jangan di kotak katik lagi. Makanya satu qanun yang disahkan harus betul-betul dijalankan, kalau enggak lebih baik jangan disahkan qanun dari awal,” tegasnya.

Sumber: Ajnn.net

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.