Mercinews

Internasional

Israel dan Militan Jihad Islam Sepakat Gencatan Senjata di Jalur Gaza

Roket Palestina ditembakkan dari Gaza City pada 12 November. Tembakan itu terjadi setelah Israel mengklaim membunuh komandan milisi Jihad Islam, Baha Abu al-Ata, di rumahnya.(AFP/BASHAR TALEB)

Gaza City, Mercinews.com –  Militan Jihad Islam mengumumkan gencatan senjata yang disepakati dengan Israel. Gencatan senjata ini mengakhiri pertempuran sengit di Gaza sejak Selasa (12/11) waktu setempat yang sejauh ini menewaskan 34 warga Palestina.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (14/11/2019), juru bicara militan Jihad Islam, Musab al-Berim, menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir itu mulai berlaku pada Kamis (14/11) pagi, sekitar pukul 05.30 waktu setempat. Belum ada konfirmasi dari Israel soal gencatan senjata ini. Namun diketahui bahwa Israel memang jarang mengakui kesepakatan yang dicapai dengan militan di Gaza.

Disebutkan Al-Berim bahwa gencatan senjata ini didasarkan pada daftar tuntutan yang diajukan militan Jihad Islam pada Rabu (13/11) malam waktu setempat. Tuntutan itu termasuk agar Israel menghentikan serangan terarah terhadap pemimpin militan Jihad Islam dan melonggarkan blokade terhadap Gaza yang diberlakukan selama 12 tahun terakhir.

Secara terpisah, seorang pejabat tinggi Mesir yang enggan disebut namanya mengonfirmasi gencatan senjata ini dalam pernyataan kepada AFP. Disebutkan pejabat Mesir itu bahwa ‘gencatan senjata itu merupakan hasil dari upaya-upaya Mesir’ dan telah didukung oleh ‘faksi-faksi Palestina termasuk Jihad Islam’.

Baca juga:  Ledakan Membunuh 6 Militan Hamas di Gaza, Israel Bantah Terlibat

Menurut pejabat Mesir tersebut, kesepakatan gencatan senjata itu menetapkan bahwa faksi-faksi Palestina harus memastikan ketenangan kembali di Gaza dan ‘menjaga perdamaian’ saat unjuk rasa. Sementara Israel diharuskan menghentikan serangannya dan ‘memastikan gencatan senjata’ tetap diberlakukan saat unjuk rasa digelar warga Palestina.

Pertempuran sengit antara Israel dan Jihad Islam pecah sejak Selasa (12/11) pagi, setelah serangan udara Israel menewaskan seorang komandan senior militan Jihad Islam, Bahaa Abu el-Atta (41). Israel menyebut Abu el-Atta bertanggung jawab atas rentetan serangan roket dan tengah merencanakan serangan skala besar.

Gempuran udara Israel yang memang ditargetkan terhadap posisi militan Islam Jihad itu memicu pertempuran paling sengit di Gaza sejak Mei tahun ini. Militan Jihad Islam dalam serangan balasannya dilaporkan menembakkan sekitar 400 roket ke wilayah Israel, sedangkan Israel terus meresponsnya dengan rentetan serangan udara ke Gaza.

Baca juga:  Israel Larang Pejabat Malaysia Masuk ke Ramallah Palestina

Hamas, kelompok militan yang lebih besar dan lebih kuat yang menguasai Gaza, sejauh ini menghindari terlibat dalam pertempuran Israel dan Jihad Islam. Hal ini, sebut Associated Press, mengindikasikan pertempuran ini tidak akan berlangsung lama.

Otoritas Palestina di Gaza melaporkan bahwa korban tewas akibat gempuran udara Israel bertambah menjadi 34 orang, termasuk seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun dan enam orang yang berasal dari satu keluarga. Sekitar 16 korban tewas di antaranya disebut sebagai militan lokal.

Sesaat setelah pengumuman gencatan senjata oleh Al-Berim disampaikan, sedikitnya dua roket dilaporkan ditembakkan dari wilayah Gaza hingga memicu peringatan sirene di wilayah Israel bagian selatan. Tidak diketahui pasti siapa yang menembakkan roket-roket itu atau apakah peluncuran roket itu disengaja atau ditembakkan otomatis dengan pengatur waktu elektronik.

Namun pihak Jihad Islam menegaskan pihaknya berkomitmen untuk mengakhiri pertempuran. Disebutkan Jihad Islam bahwa tembakan roket itu kemungkinan karena kabar soal kesepakatan gencatan senjata belum tersampaikan menyeluruh kepada semua anggota di Gaza.[m/]

Comments