Mercinews

Asia Pasifik

Jurnalis Indonesia yang Tertembak dalam Demo Hong Kong Alami Kebutaan

Veby Mega Indah, 39, jurnalis Indonesia, terkapar sesaat setelah terkena tembak polisi Hong Kong saat meliput demonstrasi hari Minggu (29/9/2019). Foto/South China Morning Post/Mimi Lau

Hong kong, Mercinews.com – Veby Mega Indah, seorang jurnalis asal Indonesia yang terkena tembakan peluru karet saat meliput demonstrasi Hong Kong dilaporkan mengalami kebutaan. Michael Vidler, pengacara Veby, menyebut dokter yang memeriksa jurnalis surat kabar SUARA mengatakan mata kanan kliennya mengalami kerusakan yang sangat parah, yang akan membuatnya buta permanen.

“Dokter yang merawat Veby memberitahunya bahwa sayangnya cedera yang diterimanya akibat ditembak oleh polisi, akan mengakibatkan kebutaan permanen di mata kanannya,” kata Vidler.

“Dia diberi tahu bahwa pupil matanya pecah oleh kekuatan benturan. Persentase pasti dari kerusakan permanen hanya dapat dinilai setelah operasi,” sambungnya, seperti dilansir hongkongfp pada Rabu (2/10/2019).

Baca juga:  Irak Hukum Wanita Indonesia 15 Tahun Penjara karena Gabung ISIS

Seperti diketahui, Veby terkena tembakan di dekat mata kanannya oleh proyektil yang tidak mematikan ketika polisi “membersihkan” pengunjuk rasa dari daerah Wan Chai pada hari Minggu sore. Petugas polisi juga dilaporkan menggunakan semprotan merica pada wartawan lokal di Causeway Bay.

Veby mengatakan, dia tertembak di jembatan yang menghubungkan Menara Imigrasi dan stasiun MTR Wan Chai. Sebelum terluka, menurut ceritanya, petugas polisi mundur dari jembatan ketika salah satu dari mereka menembak ke arah sekelompok pengunjuk rasa dan jurnalis.

Asosiasi Jurnalis Hong Kong mendesak pihak berwenang untuk menjelaskan mengapa wartawan, termasuk Veby, menjadi sasaran polisi antihuru-hara. Chris Yeung Kin-hing, ketua asosiasi, mengatakan bahwa kepolisian perlu menjelaskan mengapa peluru ditembakkan ke arah wartawan.

Baca juga:  Bantu Damaikan Afghanistan, Indonesia Merasa Terhormat

Yeung mengatakan dia tidak bisa mengerti mengapa wartawan berulang kali terluka oleh polisi antihuru-hara. “Polisi perlu menjelaskan mengapa, alih-alih melakukan perbaikan, keadaan malah memburuk,” katanya. [m/]

Comments
To Top