Mercinews

Aceh

Mahasiswa Asal Sabah Malaysia Kaget dan Ngeri Lihat Hukum Cambuk di Banda Aceh

Seorang mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Muhammad Ramdan Bin Nuh (22) warga asal Sabah/ Foto: Modusaceh.co

Banda Aceh, Mercinews.com – Hukum cambuk di Provinsi Aceh dilakukan sesuai aturan Qanun Nomor 6 Tahun 2014, tentang Hukum Jinayat.

Qanun yang disahkan 27/9/ 2014 itu, merupakan satu dari tiga qanun sebelumnya yang memuat hukuman cambuk, yaitu Qanun Nomor 12 Tahun 2003 tentang Khamar, Qanun Nomor 13 Tahun 2003 tentang Maisir (Perjudian), dan Qanun Nomor 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (Mesum).

Bagi orang yang pertama kali melihat hukuman cambuk ini, merasa kaget dan ngeri, karena terpidana dipukul mengunakan rotan.

Seperti dilansir Modusaceh.co Kamis, (19/9/2019). lalu misalnya. Seorang mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Muhammad Ramdan Bin Nuh (22) warga asal Sabah, Malaysia, mengaku kaget, ketika menyaksikan lansung hukuman cambuk yang dilaksanakan di Taman Bustanustalatin.

Baca juga:  Jenazah Mahasiswa Aceh yang Meninggal di Kairo Dimakamkan di Kampung Halaman

“Saya marasa sangat kaget. Ada perasaan gemuruh dalam bathin,” ucapnya dengan logat Malaysia.

Dia mengatakan, mendapat hikmah dan pelajaran di balik hukum syariah yang dijalankan di Aceh.

“Walaupun demikian, kami mendapat pelajaran dari pelaksanaan hukuman ini. Terutama hukum Allah ditegakkan di Banda Aceh, di bumi mayoritas orang Islam,” katanya.

Menurutnya, area umum sangat cocok untuk melakukan hukuman cambuk. Apalagi dapat dilihat langsung anak muda. Sehingga harus berfikir dua kali ketika hendak melakukan pelanggaran syariah.

Baca juga:  Irwandi Yusuf Ditangkap, Program Aceh Troe Gagal, Warga Kelaparan

“Areanya cocok dan jika dilakukan hukuman seperti ini, anak muda akan takut dan kaget ketika melakukan pelanggaran syariah,” jelas Muhammad Ramdan.

Katanya, di Malaysia juga terdapat daerah yang melaksanakan hukum cambuk, yaitu Sabah. Namun, sempat dihalang oleh beberapa pihak. “Meski terdapat halangan dari sebagian pihak yang tidak setuju, namun tetap mereka melaksanakannya,” ceritanya.

Lanjut dia, pelaksanaan hukuman cambuk di Sabah dilaksanakan dalam sebuah stadiun. “Ada satu stadiun, meski tertutup orang ramai akan berdatangan serta digalakkan untuk masuk dan melihat,” ungkapnya. [m/]

Comments