Mercinews

Hukum

Parah, Pasutri ini Paksa Anak ngemis Hasilnya Digunakan untuk Nyabu dan Main Judi

Pasutri ini Paksa Anak ngemis Hasilnya Digunakan untuk Nyabu dan Main Judi/ Foto: Beritakini

Lhokseumawe, Mercinews.com – Kisah pilu dialami seorang bocah, MS (9), warga Banda Sakti, Lhokseumawe. Dia sudah dipaksa ngemis sejak usianya 6 tahun.

Mirisnya, hal itu justru dilakukan oleh kedua orang tuanya: UG (34), ibu kandungnya; dan MI (39), ayah tirinya.

Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Lhokseumawe.

Kasatreskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra T Herlambang mengungkapkan, MS telah mengalami kekerasan fisik sejak usai enam tahun, di saat pertama dia dipaksa untuk mengemis.

“Hasil pemeriksaan, di tubuh korban terdapat banyak bekas luka,” kata Indra dalam konferensi pers, Jumat (20/9/2019).

Awalnya, kata Indra, UG memukul MS dengan cara mencubit. Itu dilakukan karena MS tak menuruti perintah UG untuk mengemis.

“Karena takut, korban dan kakak kandungnya akhirnya pergi mengemis di seputaran Kota Lhokseumawe,” kata Indra.

Saat itu, kata Indra, UG menargetkan keduanya untuk membawa pulang hasil ngemis Rp 100 ribu. Jika tak sesuai target, maka keduanya akan dilibas dengan tali rem sepeda.

“Bekas libasan itu masih ada sampai saat ini,” kata Indra.

Karena takut, keduanya akhirnya giat mengemis dan menyetorkan hasilnya kepada UG dan MI.

Di beberapa kesempatan, kata Indra, MS dan kakaknya pernah tak menyetorkan Rp 100 ribu sesuai terget kedua orang tuanya itu.

Baca juga:  Enam pengemis main judi Kartu di Takengon ditangkap polisi

“Hal itu membuat UG emosi dan bocah itu dilempar pakai gelas di bagian kepalanya dan mengalami luka dan mengeluarkan darah. Bukan diobati, malah sembuh dengan sendirinya,” ujarnya.

Karena sering mendapatkan kekerasan dari kedua orangtuanya, kakak kandung korban lari ke rumah bundanya dan tak kembali. Sementara MS enggan meninggalkan orang tuanya.

Setelah itu, sejak Januari 2019 korban tak berani pulang ke rumah apabila uang yang ditarget orang tuanya tak terpenuhi.

“Karena bocah tersebut sering tak pulang, ayah tirinya, MI, melakukan pencarian. MS ditemukan di jalanan dan dibawa pulang,” kata Indra.

Sampai di rumah, seperti biasa, dia mengalami penganiayaan.

“Mendapat tamparan di pipi oleh ayah tirinya itu, setelah itu korban diikat dengan rantai besi di kakinya, sampai berhari-hari, sehingga kaki anak tersebut mengalami luka memar,” kata Indra.

Perlakuan kedua orang tua MS ini membuat gerah warga sekitar. Warga pun melaporkan hal itu Babinsa Desa Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Serda Maulana.

Maulana lantas melakukan pengecekan ke lokasi dan benar mendapati MS sedang dirantai. Temuan itu langsung dilaporkan ke polisi.

Dari penyelidikan, polisi juga mengungkap bahwa hasil ngemis yang disetorkan MS kerap digunakan UG untuk membeli dan mengkonsumsi sabu. Sementara MI juga pejudi aktif.

Baca juga:  Jadi Kurir Sabu Mahasiswa asal Bireuen Ditangkap di Bandara SIM Blang Bintang

“Kita sudah melakukan tes urin terhadap kedua tersangka, terbukti bahwa UG, ibu kandung korban, positif mengkonsumsi narkotika jenis sabu. Sedangkan ayahnya keseharian main judi. Uang hasil ngemis digunakan korban untuk kebutuhan ibunya menyabu dan main judi,” kata Indra.

“Polisi terus menyelidiki kasus ini, untuk penanganan kasus ini, polisi bekerja sama dengan Dinas Sosial dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) akan terus menangani kasus ini dan mendampingi korban.”

Sementara UG dan MI ditahan, MS saat ini dititipkan kepada wali dari ibu kandungnya, dan tetap dalam pengawasan kepolisian.

Polisi menjerat UG dan MI dengan Pasal 88 jo Pasal huruf (i) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 44 Ayat (1) Jo Pasal 45 ayat (1) UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang P-KDRT Jo pasal 65 KUHP.

“Tersangka dipidana penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp 200 juta, barang bukti kita amankan, gelas, palu, rantai kecil rantai besar dan gembok,” kata AKP Indra T Herlambang.  [m/]

Comments