Aceh

Polda Aceh Selidiki Aktor Dibalik Upaya Menaikkan Bendera Bulan Bintang di DPRA

MAHASISWA MENGGELAR AKSI DEMO TERSEBUT BERAKHIR RICUH,LIMA ORANG MAHASISWA DIAMANKAN di gedung DPRA Kamis (15/8/2019)

Banda Aceh, Mercinews.com – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh bakal menyelidiki aktor yang diduga menjadi provokator kericuhan aksi unjuk rasa mahasiswa di gedung DPRA Kamis (15/8/2019) kemarin.

Saat aksi berlangsung mahasiswa dinilai memaksa untuk menaikkan bendera bulan bintang pada tiang bendera di depan gedung DPRA. Tetapi polisi menghentikan aksi tersebut.

Sempat terjadi kericuhan dalam aksi itu, hingga salah seorang anggota DPR Aceh, Azhari Cage ikut menjadi korban, diduga dipukul oleh oknum polisi.

 

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriyono mengatakan, pihaknya juga akan mengusut tuntas terkait dugaan adanya provokasi yang ikut mengatur aksi unjuk rasa mahasiswa tersebut.

Baca juga:  Seluruh Fraksi DPRA Kecam Pemukulan Ketua Komisi I oleh Oknum Polisi saat Demo

Dari pendalaman yang dilakukan Dit Intelkam Polda Aceh, dalam aksi tersebut adanya unsur pesanan skenario yang dilakukan sistematis oleh sejumlah pihak.

“Kita akan mengusut tuntas sesuai dengan ketentuan terhadap oknum anggota DPRA atau pendemo apabila terbukti melakukan provokasi, atau menjadi aktor intelektual dalam mensetting unjuk rasa yang ingin menaikkan bendera bintang bulan,kata Kombes Pol Ery Apriyono saat menggelar konfrensi pers di Mapolda Aceh, Minggu (18/8/2019).

Ery menyampaikan, pada aksi peringatan 14 tahun damai Aceh itu, massa dinilai telah menurunkan bendera merah putih yang merupakan simbol dan lambang negara yang wajib dikibarkan, di Gedung DPRA.

Baca juga:  Massa Bakar Bus dan Jeep Milik TNI di parkir Lapangan Tembak Senayan

Kemudian, kata dia bendera bulan bintang adalah bendera yang pernah digunakan oleh kelompok yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

“Menurunkan bendera merah putih dengan mengibarkan bendera bulan bintang adalah kesalahan dan melawan UU dan aturan yang berlaku,” ujarnya.

“Bahkan, polisi dapat melakukan tindakan tegas terukur bila hal ini terjadi, tetapi Polresta Banda Aceh masih menggunakan tindakan persuasif humanis dengan membubarkan paksa aksi massa itu,” pungkas Ery Apriyono.

 

Comments