Asia Pasifik

Sebanyak 100 Ribu Warga Aceh Kuasai Bisnis di Malaysia

Headline Berita Harian Malaysia.

Malaysia, Mercinews.com – Sebanyak 100.000 dari total 500.000 orang Aceh di Malaysia diyakini mendominasi sektor bisnis dan ketenaga kerjaan (jasa), sebagian besar terkonsentrasi di Lembah Klang.
Bisnis Aceh diyakini dilindungi oleh penduduk setempat yang mengizinkan nama mereka untuk digunakan dalam lisensi dan mengklaim pemilik toko ketika operasi diluncurkan oleh otoritas lokal, terutama Balai Kota Kuala Lumpur (DBKL).

Seperti dilansir bharian.com.my, sebuah sumber menyebutkan, bahwa dana keuangan masyarakat Aceh menjadi lebih kuat setelah peluncuran korban tragedi tsunami pada tahun 2004.

“Bahkan, sebagian besar pembisnis Aceh juga dikatakan memiliki kartu identitas Malaysia,” ujar sumber.

Ketua Komite Kamar Dagang Melayu Kuala Lumpur (DPMMKL) Abdul Razak Ab Majid mengatakan kemampuan orang Aceh untuk memperluas perkembangan bisnis di negara Malaysia diyakini telah dimulai dengan dukungan keuangan masyarakat melalui “dana bawah tanah” selama dekade terakhir.

Baca juga:  Politik Malaysia Panas, Anwar Ibrahim akan Jadi PM Baru Malaysia?

“Kajian DPMMKL sejak 2012 menemukan bahwa dana itu awalnya diciptakan untuk membantu masyarakat Aceh di negara ini dan juga membangun kembali kehidupan mereka setelah tsunami,” sebut Abdul Razak.

“Mereka memulai bisnis kecil yang disebut dengan toko-toko Aceh untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari mereka sendiri, namun mereka semakin nyaman untuk tinggal di negara ini dalam jangka waktu yang lebih lama.

Bahkan, mereka sekarang dikatakan menawarkan uang yang menguntungkan kepada masyarakat setempat untuk mendapatkan izin usaha sebelum dijalankan oleh Cina,” lanjutnya.

“Selain berdagang, mereka juga membuka toko cukur, bengkel kendaraan, toko obat herbal dan lainnya,” lanjutnya lagi.

Baca juga:  Polis Malaysia Bongkar Sindikat Judi Online, 16 WNI Ditangkap di Bayan Lepas

Menurutnya, melalui dana itu masyarakat Aceh tertarik untuk membantu memperluas jaringan bisnis sehingga ada toko di sepuluh lokasi berbeda pada satu waktu.

Selain bekerja seperti anggota koperasi, mereka juga menjual barang dagangan dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan mereka yang sendirian, di antara barang-barang di toko-toko Aceh yang lebih murah.

“Ada komunitas Aceh yang menyelundupkan uang melalui ‘tikus tikus’ untuk menghindari terdeteksi oleh pihak berwenang atau ditagih berlebihan dengan mengirim uang ke luar negeri,” katanya.

Sumber: bharian.com.my

Comments