Aceh

Tolak Temui Edi Obama, Plt Gubernur Aceh Dinilai Lari dari Masalah

Sofyan politisi muda Aceh

Banda Aceh, Mercinews.com – Sofyan (38) politisi muda Aceh yang bermukim di Kota Lhokseumawe, yang juga ikut terlibat dalam pemenangan tim Irwandi-Nova pada Pilkada 2017, serta Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dapat menjumpai Edi Obama Cs, melibatkan kekanak -kanakan. Menurut mantan Ketua DPW Partai Rakyat Aceh (PRA) Lhokseumawe itu, masalah utang piutang 8 miliar akan selalu menjadi pembohong Andaikan Ketua Partai Demokrat Aceh yang terus-menerus menghindari Edi.

Hal ini disampaikan Sofyan, Rabu (16/4/2020) setelah menyimak cara komunikasi Niva Iriansyah yang menolak dikeluarkan statemen di media yang menuding Edi seakan-akan sedang disetir oleh kelompok-kelompok politik tertentu dan ingin digantikan dari kursi Plt Gubernur Aceh. Serta meminta polisi menindak Edi sesuai protap covid-19.

“Padahal Edi, Tiyong dan lainnya sudah datang ke pendopo. Berharap ada masalah yang ingin diselesaikan. Jika Nova seorang pemimpin, disetujui mengklaim tidak ada yang setuju dengan utang-piutang itu, kan tinggal temui saja. Bahas itu secara detail. Tapi ini tidak dilakukan Nova. Dia memilih membangun narasi terzalimi di media, menyelesaikan masalah, ”kata Sofyan.

Baca juga:  Darwati Jadi Ketua Harian PNA Ganti Tiyong, Sekjen Muharram Ganti Miswar Fuadi

Menurut Sofyan, Andaikan Irwandi tidak bermasalah hukum, maka utang-piutang itu tidak akan ditagih kepada Nova Iriansyah. Tapi bersebab Teungku Agam sudah dipindahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maka Edi beralih ke Nova, selaku pihak yang “beruntung” dari prahara politik itu.

“Kan sudah benar jalur penagihannya. Ke Nova karena Irwandi tidak ada lagi. Yang memiliki akses atas semua hal di Aceh saat ini di Nova Iriansyah. Kepada yang tidak mendukung paslon itu saja, dapat memberikan fasilitas, mengapa juga untuk Edi dan menambahkan pengusaha di Bireuen yang ikut membantu keuangan politik kompilasi kampanye tidak diberikan fasilitas yang sama? Justru dilawan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan gaya kepemimpinan modern di alam demokrasi, ”kata Sofyan.

Pada kesempatan itu, lelaki yang kuliah aktif di Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR) Lhokseumawe mengatakan ada hal lain yang harus dipertimbangkan dari kemelututang-piutang itu. Bila ditarik ke aturan pemilu, maka
kontribusi yang dapat diberikan perorangan yang diperlukan peraturan KPU tentang dana kampanye, sudah melebihi ketentuan. Tapi itu sudah terjadi. Hal inu membuktikan ketika aturan kepemiluan masih banyak kekurangan. Aturan yang dibuat penting untuk dilanggar, karena tidak mampu dengan kebutuhan ril di lapangan.

Pun demikian, karena telah mencuat keluar dan dibatalkan PKPU tentang kampanye dan dana kampanye, jika penegak hukum mau mengambil sikap, akan lahir delik hukuman lain yaitu pemalsuan dana kampanye yang dilakukan oleh paslon Irwandi-Nova.

Baca juga:  Irwandi Yusuf dan Tiyong Ribut Masalah Proyek dinas PU, di Medsos

Akan tetapi, disetujui tidak disetujui, dipermasalahkan tidak sesuai dengan hukum, pemilu harus diselesaikan. Bila tak kunjung menemukan jawaban, Nova akan terus menerus menghantui Iriansyah.

“Berutang memang bukan tindakan memalukan. Tapi menolak membayar sial adalah preseden buruk. Bila benar Nova tak terlibat, ayo selesaikan. Undang Edi dan duduk bersama. Jangan lari-lari terus. Apalagi menyalahkan Bila ada Aceh sedang-19. Koki untuk urusan Edi harus harus diribetkan? Ayolah Pak Nova, jangan buat anak kecil. Anda pemimpin Aceh. Tunjukkan jiwa ksatria, berikan contoh yang baik kepada rakyat. Karena pemimpin itu seperti guru, digugu dan ditiru. Bila Pak Nova “kencing berdiri” maka rakyat akan kencing sambil berlari, ”tutup Sofyan.

[m/news]

Sumber: acehtrend

Comments