Mercinews

Aceh

Ulama dan Mantan GAM Berpeluang Memimpin PDIP di Aceh

Ramond Donny Adam

Banda Aceh, Mercinews.com– Dalam konteks Aceh, PDI Perjuangan harus dipimpin oleh orang yang mempunyai pengaruh besar dari kalangan manapun. Ulama dan mantan kombatan GAM pun juga mempunyai hak yang sama dalam membangun Aceh bersama PDI Perjuangan.

Hal ini disampaikan oleh Ramond Donny Adam. Tim Asistensi DPP untuk Konsolidasi DPD PDI-Perjuangan Aceh. Kepada aceHTrend, Selasa (9/7/2019) Ramond mengatakan, diakui atau tidak, saat ini dua elemen tersebut merupakan referensi utama bagi mayoritas rakyat Aceh dalam menentukan pilihan politiknya.

“Pada dua elemen tersebut, rakyat Aceh seakan menemukan suatu kebanggaan heroisme dan spritualisme. Suatu kebanggaan simbolik. Kebanggaan ini sering tercermin dari sikap rakyat Aceh yang selalu bangga pada heroisme sejarahnya saat perang melawan Belanda, dan kebanggaan spritualisme sebagai daerah pertama di Nusantara yang memeluk Islam. Kalangan Ulama dan mantan kombatan GAM merupakan representasi dari dua kebanggaan tersebut. Melawan keduanya sama artinya dengan melucuti kebanggaan rakyat Aceh. Dan itu bermakna memposisikan diri sebagai musuh rakyat Aceh,” ujar Ramond Donny.

Baca juga:  Konsolidasi Pemenangan Jokowi, PDIP Safari Kebangsaan di Aceh

Pun demikian, bukan berarti harus ulama dan mantan kombatan. Sekiranya ada sosok yang bisa membangun hubungan lintas tokoh masyarakat dengan baik serta memahami betul permasalahan di Aceh dengan memberikan solusi yang terbaik, pastinya peluang memimpin PDI Perjuangan di Provinsi Aceh akan terbuka lebar.

Dalam paradigma masyarakat Aceh, PDI-Perjuangan memiliki banyak dosa. Dari sisi kemanusiaan partai dipaksa bertanggung jawab atas status Darurat Militer yang memakan banyak korban, walaupun sebenarnya kenyataannya tidak demikian. Belum lagi dari segi keislaman PDI-Perjuangan juga harus jadi sasaran tunggal, selalu dipersepsikan sebagai partai anti Islam, penista ulama juga diidentikkan dengan PKI. Padahal hampir seluruh produk undang-undang syariah PDI Perjuangan lah yang mengusulkan serta mengawal hingga disahkan, salah satu produk tersebut masih nikmati rakyat hingga saat ini di Tanah Rencong.

“Dosa-dosa” yang dituduhkan kepada PDI Perjuangan tersebut telah mengakar hingga ke lapisan paling bawah dalam strata sosial masyarakat. Kondisi ini kian kronis setelah sekian lama, tidak ada pihak yang secara serius memberikan pandangan pembanding bagi masyarakat Aceh dalam mendefinisikan PDI-Perjuangan.

Baca juga:  Megawati Temui Jokowi di Istana Merdeka

“Maka dibutuhkan tokoh yang tepat, yang bisa diterima oleh masyarakat Aceh secara luas, sehingga dapat merehabilitasi nama partai dari label negatif yang sudah terlanjur melekat di tubuh PDI Perjuangan selama ini. Dengan demikian, upaya-upaya untuk merekonstruksikan ulang cara pandang masyarakat di bumi Serambi Mekah terhadap PDI-Perjuangan akan menuai hasil sebagaimana yang kami harapkan,” katanya.

Ia berharap kepada seluruh masyarakat Aceh tidak perlu terlalu mencurigai PDI Perjuangan . Mari bersama-sama membangun masa depan Aceh dalam bingkai Pancasila berbalut syariat Islam yang merupakan kearifan lokal. Serta mendukung penuh keberadaan partai lokal sebagai identitas dan marwah masyarakat Aceh itu sendiri. Sebab partai lokal Aceh harus tetap ada hingga penghujung dunia.

 

Sumber: aceHTrend

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.