Gas Beracun Menyebar, Hawaii Lanjutkan Evakuasi



Pahoa, Mercinews.com – Gempa bumi, semburan lahar dan gas beracun terus terjadi saat aktivitas gunung Kilauea berlanjut. Hampir 2000 orang di Big Island, Hawaii, telah dievakuasi setelah letusan lahar menghancurkan lima rumah dan mengeluarkan gas berbahaya sulfur dioksida.

Garis retakan baru menyemburkan lahar hingga 70 meter. Retakan juga terjadi di jalan raya di kawasan Leilani Estates, sekitar 19 kilometer dari pusat lava. Hawaii juga diguncang gempa berkekuatan 6,9 skala richter pada Jumat (4/5), terkuat sejak 1975, dan diramalkan mengalami gempa dalam beberapa bulan ke depan.

Perkembangan terbaru itu diungkapkan Hawaiian Volcano Observatory. Atas kondisi itu, sekitar 1.500 kepala keluarga dievakuasi ke area terpencil secara berangsur-angsur sejak retakan di Kilauea menyemburkan uap, lava, dan sulfur dioksida yang sangat berbahaya bagi kesehatan bahkan dapat mengancam jiwa para korban.

Sejauh ini, tidak ada korban tewas atau luka-luka akibat letusan lava itu. “Mereka yang masih tinggal di Leilani, Lanipuna Garden, dan di sepanjang jalan Pohoiki harus bersiap-siap meninggalkan rumah karena arah angin berubah. Mereka dapat terkena gas racun,” tegas anggota Dewan Hawaii County, Eileen O’Hara, dikutip kantor berita Reuters.

Baca Juga:  Ikuti AS, Paraguay Pindahkan Kedutaannya di Israel ke Yerusalem

Pulau lainnya yang tidak terdampak oleh letusan lava itu tetap menjalankan bisnis seperti biasa. Pusat pariwisata dan penerbangan juga tetap beroperasi. Presiden dan Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Pariwisata Hawaii, George Szigeti, mengatakan sebagian besar area resort berjarak sangat jauh dari area letusan lava.

Meski tidak ada aliran lahar yang signifikan, letusan lava lainnya yang dapat mencapai suhu hingga 1.150 derajat Celsius kemungkinan akan kembali terjadi. Warga lokal Petra Wiesenbauer yang juga pengusaha penginapan Hale Moana Hawaii Bed and Breakfast ketakutan dan mengungsi bersama dua anaknya.

“Saya sudah meninggalkan rumah saya sejak Jumat malam. Sekarang, kami mencoba membuat rencana untuk masa depan. Sebab, hingga kini, kami tidak tahu kapan kami akan mampu kembali pulang,” ujar Wiesenbauer. Kilauea, salah satu gunung berapi paling aktif, telah mengalami letusan secara konstan selama 35 tahun.

Baca Juga:  Meski Ditekan Washington, Australia Ogah Pindahkan Kedubes ke Yerusalem

Perwakilan Amerika Serikat (AS) di Hawaii dari Demokrat, Tulsi Gabbard, meminta pemerintah federal menanggapi kebutuhan warga lokal, baik jangka pendek ataupun panjang, secara cepat. Dia mengatakan lebih dari 1.800 warga Leilani Estates dan Lanipuna Garden telah diminta melakukan evakuasi sejak Kamis (3/5).

Survey Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan beberapa retakan baru lava telah terbuka di distrik Puna, subdivisi Leilani Estates. Namun, tidak semua retakan itu aktif. Hawaiian Volcano Observatory menyatakan  aktivitas letusan meningkat sejak Sabtu (5/5) dan diperkirakan akan terus berlanjut sampai beberapan bulan.

Juru Bicara (Jubir) Hawaiian Volcano Observatory, Janet Babb, mengatakan aktivitas letusan lava kali ini mirip dengan peristiwa pada 1955. Saat itu, letusan lava terjadi selama 88 hari. Departemen Pemadam Kebakaran Hawaii mengungkapkan kualitas udara di titik evakuasi sangat buruk menyusul tingginya sulfur dioksida. Gunung Kilauea merupakan gunung berapi paling aktif di Hawaii.

Baca Juga:  Mattis: Penarikan Pasukan AS dari Suriah Kesalahan Besar

Terletak di selatan pulau, gunung itu berusia antara 300.000 dan 600.000 tahun dan muncul ke atas permukaan laut sekitar 100.000 tahun silam. Gunung ini merupakan hasil aktivitas vulkanik termuda kedua di wilayah Hawaii dan menjadi pusat dari rantai gunung bawah laut Hawaiian–Emperor.

Gunung itu awalnya diduga sebagai bagian terkecil dari gunung-gunung sekitarnya yang lebih besar. Secara struktur, Kilauea memiliki kawah besar di puncak dan dua zona longsoran aktif, satu sepanjang 125 km di bagian timur dan lainnya 35 km di bagian barat. Gunung itu juga bergerak secara vertikal rata-rata 2 hingga 20 mm per tahun.

Lahar paling awal dari gunung itu dilacak sejak tahap di bawah laut, berdasarkan sampel yang ditemukan para peneliti dari bagian lereng yang tenggelam di bawah laut. Lahar dengan umur lebih muda dari 1.000 tahun mencakup 90% dari permukaan gunung berapi. (Sindonews)

  • 15
    Shares
Berikan Komentar