Wanita Israel Ini Dituding sebagai Sniper Pembunuh Razan al-Najjar

Tel Aviv, Mercinews.com– Kematian paramedis cantik Palestina, Razan al-Najjar, 21, oleh sniper militer Israel membuat seorang wanita bernama Rebecca mendapat banyak ancaman pembunuhan. Wanita dari negara Zionis itu dituduh sebagai sosok sniper yang menewaskan Razan.

Rebecca, wanita kelahiran Amerika Serikat (AS) ini merupakan mantan tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Namun, dia sudah lama tidak lagi melayani militer negara Yahudi tersebut.

Tuduhan bahwa Rebecca sebagai penembak runduk yang menewaskan perawat asal Khan Younis, Jalur Gaza, itu telah menyebar di situs media sosial di seluruh dunia sejak Jumat malam atau beberapa jam setelah kematian Razan.

Ancaman pembunuhan tak hanya ditujukan pada mantan tentara IDF ini. Teman-teman dan anggota keluarganya juga mendapat ancaman serupa.

Baca Juga:  Dihujani 30 Roket dan Mortir, Israel Bombardir 25 Target di Jalur Gaza

Tuduhan terhadap veteran IDF itu kemungkinan berasal dari seorang wanita asal Chicago, dengan lebih dari 13.000 follower di Facebook, yang mem-posting foto Rebecca.

Beberapa jam setelah posting foto tersebut muncul, halaman Facebook “Freedom for Gaza” dengan lebih dari 100.000 follower, menerbitkan gambar Rebecca. “Dia membunuh seorang perawat Palestina berusia 21 tahun di Gaza,” bunyi keterangan dalam posting foto tersebut. Pada Minggu malam, posting itu telah dibagikan hampir 15.000 kali.

Posting serupa dari beberapa halaman Facebook pro-Palestina dan banyak akun Twitter juga telah dibagikan ulang puluhan ribu kali, di seluruh dunia. Dalam dua hari, klaim bahwa Rebecca sebagai sniper Israel pembunuh Razan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Spanyol, Turki, Prancis, Melayu, dan Indonesia.

Baca Juga:  MA Israel Bekukan Rencana Penghancuran Desa Palestina

Namun, klaim itu belum tentu benar. Terlebih, Rebecca sudah tidak aktif di IDF sekitar 2,5 tahun lalu. Dia juga tidak pernah menjadi sniper ketika dia berada di IDF.

Rebecca, 24, yang meminta nama belakangnya tak diungkap karena merasa terancam, saat ini bekerja untuk sebuah program di Israel. Dia mengatakan mulai bulan akan mengajar bahasa Inggris untuk pencari suaka Afrika.

Dia menyadari menjadi subjek dari tuduhan tersebut pada Sabtu malam, ketika dia menyalakan ponselnya.

Baca Juga:  Krisis Makin Parah, Warga Gaza Berpuasa dalam Keprihatinan

Pesan ancaman yang dikirim ke seorang temannya. “Saya membuka ponsel saya setelah Shabbat, dan ada ratusan pesan dari orang-orang di Facebook, dan semua teman saya mengirim pesan ke WhatsApp karena mereka telah mendapatkan pesan kebencian ini sepanjang akhir pekan,” katanya kepada Times of Israel yang dikutip Senin (4/6/2018).

maya, tidak ada cara untuk melindungi diri Anda karena menjadi korban ancaman dan kebohongan,” ujar Rebecca

“Saya tidak politis, tetapi saya akan melakukan apa yang dapat saya lakukan untuk mengetahui semua narasi, dan jenis propaganda ini,” imbuh dia.[] Sindonews

  • 188
    Shares
Berikan Komentar

Mercinews.com - Situs Media Online berita terbaru hari ini, memberikan akses informasi secara mudah, cepat, akurat, dan berkualitas kepada masyarakat luas.

Kategori

Copyright © 2018 Mercinews.com. All Rights Reserved