Begal Dana Beasiswa Aceh, Nama Oknum Anggota DPRA Disebut Dalam Berita Acara

Banda Aceh, Mercinews.com – Sebanyak 322 orang mahasiswa Aceh yang menimba ilmu di berbagai Perguruan Tinggi di Aceh dan luar Aceh diduga telah “dibegal” oleh oknum anggota DPRA. Mereka yang mendapatkan beasiswa bantuan pendidikan Pemerintah Aceh tahun 2017, hanya menerima sangat sedikit dari total beasiswa yang masuk ke rekening mereka.

Temuan ini terkuak berkat pemeriksaan Inspektorat Aceh, yang kemudian dilaporkan kepada Gubernur Aceh Pada Jumat (13/4/2018), yang berdasarkan pengaduan masyarakatnya yang disampaikan kepada Gubernur Aceh.

Total bantuan pendidikan yang telah disalurkan sebanyak 19.854.000.000 kepada 803 mahasiswa yang bersumber dari APBA 2017. Hasil konfirmasi pihak Inspektorat Aceh terhadap 197 mahasiswa, mereka baru menerima 5.209.000.000 dan masih tersisa (belum diterima) 1.147.500.000, hingga kini masih berada di tangan para penghubung.

Selain itu, dari hasil konfirmasi kepada penerima bantuan pendidikan non aspirator, dari 47 orang, 18 orang sudah berhasil dikonfirmasi dengan rincian enam orang mengaku menerima penuh, dua orang tidak menerima penuh, dua orang tidak terima sama sekali dan delapan orang berindikasi tidak terima penuh.

Tiga orang penghubung disebut-sebut namanya di dalam laporan berita acara pemeriksaan, masing-masing berinisial MK sebagai koordinator umum lapangan , KB alias KMI untuk kawasan Bireuen, MY untuk Aceh Utara dan sejumlah nama lain.

Dalam menjalankan aksinya, tiap rekening mahasiswa dipegang oleh penghubung, selain itu penghubung juga meminta uang cash dari penerima beasiswa, serta pola lainnya mahasiswa penerima beasiswa diminta melakukan transfer ke rekening penghubung dan satu lagi, penghubung membuat rekening atas nama penerima yang tanpa sepengetahuan pemilik identitas.

Baca Juga:  Kasus Pembegalan Beasiswa Aceh Sudah Diketahui KPK

Hasil temuan lainnya bahwa salah seorang anggota DPRA yang berinisial IU dari salah satu partai lokal disebut-sebut namanya sebagai pihak yang paling getol melakukan pemotongan beasiswa untuk mahasiswi Aceh.

Dari 322 orang penerima biaya bantuan pendidikan Aceh tahun 2017, yang paling banyak melakukan pemotongan adalah IU melalui tim lapangannya yang dimotori oleh MK. Sejauh ini pihak Inspektorat sudah memeriksa 60 orang penerima bantuan pendidikan Aceh bersumber dana aspirator dari IU.

Dalam berita acara berdasarkan pengakuan mahasiswa dari Bireuen, Aceh Besar, Aceh Utara, Langsa dan Aceh Timur, jumlah pemotongan beasiswa variatif. Berikut beberapa pengakuan mahasiswa.

BI, mahasiswa UIN Ar-Raniry dipotong sebanyak 25 juta. Dia tidak merincikan berapa dana yang ia terima.

Selanjutnya DSK, mahasiswa Unsyiah Syiah Kuala yang mengaku menerima 35 juta, kemudian dipotong 22 juta serta menerima bersih sebanyak 13 juta.

A, mahasiswa Unimal Lhokseumawe, terima di rekening 20 juta, kemudian dikembalikan ke penghubung 12 juta dan hanya menerima sisa sebanyak delapan juta.

EM, mahasiswa Unsyiah menerima di rekening sebanyak 35 juta, ditranfer kembali ke penghubung sebanyak 28 juta, ia menerima sisa tujuh juta. Selanjutnya AA mahasiswa IAIN Langsa, terima di rekening 20 juta, diserahkan ke penghubung 17 juta dan ia hanya menerima sisa tiga juta rupiah.

CH, terima 20 juta kemudian dikembalikan ke penghubung 17.500.000, ia hanya menerima 2,5 juta. Kemudian I, mahasiswa IAIN Cot Kala menerima 20 juta dan dikembalikan ke rekening penghubung 12 juta. Sisa yang ia terima delapan juta. Selanjutnya SM, mahasiswa IAIN Langsa menerima 20 juta, kemudian mengembalikan ke rekening penghubung 15 juta dan ia menerima 5 juta saja.

Baca Juga:  Kajari: Kita Sudah Kantongi 2 Calon Tersangka, Terkait Proyek Tebing Krueng Samalanga

Selain itu, dalam laporannya, Inspektorat Aceh juga mengatakan, mereka menemukan sedikit kendala dalam pendalaman informasi karena adanya tekanan dari pihak tertentu kepada mahasiswa untuk tidak memberikan keterangan tentang kondisi yang sebenar.

Selain itu, para mahasiswa penerima beasiswa sepertinya tidak mau membangun koordinasi dengan pihak rektorat, sehingga menyulitkan upaya penggalian info.

Dalam laporannya itu, Inspektorat Aceh memberikan dua opsi rekomendasi, pertama meminta kepada penyalur untuk mengembalikan dana tersebut ke kas daerah (BPSDM), kedua, menyerahkan kepada aparat penegak hukum untuk penyelesaian lebih lanjut.

Informasi terbaru yang diterima aceHTrend, Senin (11/6/2018) kasus tersebut sekarang sudah ditangani pihak Rekrimsus Polda Aceh. “Kasus itu sedang ditangani pihak Reskrimsus Polda Aceh, Bang,” kata sumber dari internal kepolisian Aceh.[] Sumber: acehtrend

  • 180
    Shares
Berikan Komentar

Mercinews.com - Situs Media Online berita terbaru hari ini, memberikan akses informasi secara mudah, cepat, akurat, dan berkualitas kepada masyarakat luas.

Copyright © 2018 Mercinews.com. All Rights Reserved