Mercinews

Nasional

Survei LSI: Pro-Pancasila Turun 10%, Pro-NKRI Bersyariah Naik 9%

ffc74f46 a491 434a bddd 11a7045a0c89 169 - Survei LSI: Pro-Pancasila Turun 10%, Pro-NKRI Bersyariah Naik 9%

Jakarta, Mercinews.com – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melakukan survei analisis pro-Pancasila. Hasilnya, survei menunjukkan publik yang pro-Pancasila menurun.

Survei ini dilaksanakan di 34 Provinsi pada 28 Juni hingga 5 Juli 2018. Jumlah sampel sebanyak 1.200 orang dengan metode multistage random sampling dan toleransi kesalahan (margin of error) survei diperkirakan ±2,9%.

Responden terpilih diwawancarai dengan menggunakan kuesioner. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA.

“Pada tahun 2005 publik yang Pro-Pancasila angkanya mencapai 85,2%, lima tahun kemudian tahun 2010 angkanya menjadi 81,7%. Tahun 2015 angkanya menjadi 79,4% dan tahun 2018 menjadi 75,3%. Dalam waktu 13 tahun publik yang pro-Pancasila menurun 10%,” ucap peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, saat pemaparan survei di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Di sisi lain, Ardian menyebutkan publik yang pro-NKRI bersyariah mengalami kenaikan sebesar 9% selama 13 tahun. Pada tahun 2005 mencapai 4,6%, tahun 2010 mencapai 7,3% dan tahun 2015 mencapai 9,8%.

Baca juga:  SBY: Jangan Benturkan Islam dengan Pancasila

“Dan sekarang tahun 2018 menjadi 13,2%. Dalam waktu kurun 13 tahun ada kenaikan persetujuan publik terhadap NKRI bersyariah sebesar 9%,” tutur Ardian.

Ardian menjelaskan tiga alasan publik yang pro-Pancasila menurun yaitu, ekonomi, paham alternatif dan sosialisasi. Menurut Ardian, kesenjangan ekonomi semakin tinggi terhadap masyarakat.

“Alasan kedua paham alternatif semakin digaunkan diluar pancasila. Intensifnya paham alternatif diluar pancasila mampu menarik terutama warga muslim. Alasan ketiga tidak tersosialisasi dari masyarakat kepada masyarakat,” jelas Ardian.

Kemudian menurunnya pro-Pancasila juga terasa berbagai segmen seperti warga penghasilan rendah. Ardian menjelaskan publik yang berpenghasilan di bawah Rp 1 juta yang pro-Pancasila pada tahun 2005 mencapai 91,8%, tahun 2010 mencapai 85,7%, tahun 2015 mencapai 79,1% dan tahun 2018 mencapai 69,1%.

Sedangkan publik yang berpenghasilan di atas Rp 3 juta pada tahun 2005 mencapai 77,8%, tahun 2010 sebesar 76,8%, tahun 2015 mencapai 76,6% dan tahun 2018 mencapai 76,4%.

Baca juga:  Pemerintah Aceh Gelar Upacara Hari Kelahiran Pancasila

Untuk warga beragama muslim yang pro-Pancasila pada tahun 2005 mencapai 85,6%, tahun 2010 mencapai 81,8%, tahun 2015 mencapai 79,1% dan tahun 2018 sebesar 74,%. Sedangkan agama lainnya Katolik, Protestan, Hindu dan Budha yang pro-Pancasila sangat stabil dengan angka 82,8%.

Sementara itu, Adrian juga mengatakan menurunnya pro-Pancasila merata di level pendidikan. Lulusan atau di bawah SD tahun 2005 mencapai 86,5%, tahun 2010 mencapai 83,1%, tahun 2015 mencapai 80,1% dan tahun 2018 mencapai 76,3%.

Sedangkan lulusan SLTP yang pro pancasila pada tahun 2005 mencapai 84,7%, tahun 2010 sebesar 81,3%, tahun 2015 mencapai 80,0% dan tahun 2018 sebesar 76,5%. Untuk lulusan SMA yang pro pancasila pada tahun 2005 mencapai 83,3%, tahun 2010 mencapai 80,1%, tahun 2015 mencapai 78,4% dan tahun 2018 sebesar 74,0%.

“Yang pernah kuliah atau diatasnya yang pro pancasila tahun 2005 82,2% hingga tahun 2018 mengalami penurunan. Tahun 2018 mencapai 72,8%,” ucap Ardian.

(detikcom)

loading...

Comments
To Top