Mercinews


Indonesia Kecam Israel karena Adopsi UU Negara Yahudi

indonesia kecam israel karena adopsi uu negara yahudi L9Y - Indonesia Kecam Israel karena Adopsi UU Negara Yahudi
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Lestari Priansari Marsudi melayani wawancara sejumlah media di Jakarta, Senin (23/7/2018). Foto/SINDOnews/Victor Maulana

Jakarta, Mercinews.com – Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengecam keputusan Parlemen Israel karena mengesahkan Jewish Nation-State Law (Undang-Undang Negara-Bangsa Yahudi). Menurut Retno, keputusan itu sudah mengesampingkan hak-hak warga Palestina.

Dalam pernyataan pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah di Jakarta, Retno menyatakan pengesahan UU itu juga mengancam proses perdamaian kedua negara.

“Saya ingin meng-adress pernyataan mengenai Jewish Nation-State Law pada tanggal 19 lalu oleh Parlemen Israel. Disahkannya undang-undang tersebut telah menafikan hak-hak orang Palestina di Israel dan mengancam penyelesaian konflik berdasarkan solusi dua negara,” kata Retno, Senin (23/7/2018).

Baca juga:  Kuwait Blokir Pernyataan PBB Kritik Pemimpin Palestina

UU itu telah memicu kecaman dan kemarahan di Israel, Palestina dan kelompok-kelompok Yahudi termasuk yang berada di Amerika Serikat.

Tamar Zandberg, Ketua Partai Meretz, yang merupakan partai sayap kiri di Israel, menggambarkan undang-undang baru itu sebagai sesuatu yang memalukan dan telah mencoreng wajah Israel.

Baca juga:  Dikirim ke Laut China Selatan, Kapal Induk Jepang Bakal Mampir RI

“Zionisme bukan lagi sebuah gerakan nasional, tetapi nasionalisme yang kuat yang mempermalukan minoritas dan menetapkan supremasi rasial,” kata Zandberg.

Pemimpin oposisi, Isaac Herzog, menyatakan bahwa disahkannya UU itu merupakan hal yang menyedihkan. “Sejarah hanya akan menentukan apakah undang-undang itu akan menguntungkan Israel atau tidak,” katanya.

Sementara itu, Mantan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, mengatakan bahwa undang-undang itu hanya untuk menguntungkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Sumber: SINDOnewe |

loading...

Comments