Sengkuni dan Panglima Tibang di Samping Irwandi

SENGKUNI adalah tokoh perwayangan dalam kisah Raja Jawa. Dia dikenal sebagai Sangkuni, Haryo/Arya Sengkuni. Haryo/Arya Suman, Suwalaputra dan Trigantalpati.Entah itu sebabnya, Sengkuni menjadi salah satu tokoh perwayangan yang dapat dikatakan ‘istimewa’. Namun keistimewaan ini bukan dalam arti positif, justru negatif. Walau tak sama persis, dalam sejarah Aceh, juga ada sosok mirip Sengkuni. Dia disebut sebagai; Panglima Tibang. Seorang ahli sulap asal India Selatan. Namun, dia mampu menarik simpati kalangan istana kerajaan Aceh ketika itu.

Maklum, Sengkuni adalah lambang manusia yang penuh kelicikan, kebusukan dan kejahatan. Dia merupakan gambaran seorang tokoh antagonis sejati. Walau sebenarnya dia sangat tangkas, pandai bicara dan banyak akal. Namun, kelebihannya itu dimanfaatkannya untuk memfitnah, menghasut dan mencelakakan orang lain. Sebab, dalam diri Sengkuni sarat dengan keburukan. Nah, karena keburukan itu pula, tentu tak ada seorang pun mau disebut sebagai Sengkuni. Begitupun, tokoh tersebut tetap saja ada dalam realita dan kehidupan sehari-hari.

Sengkuni adalah sosok munafik dan suka menjilat di hadapan para penguasa. Merasa dengki dan iri hati atas keberhasilan dan kebahagiaan orang lain. Karena itu, dia tega melakukan segala cara demi keuntungan pribadi meski harus mengorbankan orang lain. Selain itu, suka mencari-cari keburukan dan kelemahan orang lain dan menyebarkannya.

Sudah menjadi hal biasa jika kita melihat orang-orang yang serakah dan suka mengorbankan orang lain. Sudah sering pula kita mendengar fitnah yang disebarkan untuk menjatuhkan orang lain. Termasuk hasutan yang pada akhirnya membuat kehidupan orang lain sengsara. Sudah banyak pula terjadi orang-orang yang karena dengkinya menjadi tega ‘menghabisi’ orang lain. Dan, sudah menjadi hal biasa ketika seseorang begitu penuh ambisi untuk menyingkirkan orang-orang yang merintanginya.

Jadi, dalam hidup ini memang selalu ada orang-orang yang berwatak Sengkuni. Tak kecuali dalam lingkaran penguasa dan kekuasaan. Itu sebabnya, perlu waspada dan hati-hati. Jangan sampai termakan fitnah dan hasutan yang disebarkannya. Dan, kita ikut arus dalam gelombang kebencian yang dibawanya.

***

Walau tak sama persis, dalam sejarah Aceh, juga ada sosok mirip Sengkuni. Dia disebut sebagai; Panglima Tibang. Seorang ahli sulap asal India Selatan. Namun, dia mampu menarik simpati kalangan istana kerajaan Aceh ketika itu. Karena kepiawan itulah, ia dipercayakah sebagai syahbandar. Lalu, untuk menghadapi serangan Belanda, ia diutus untuk melakukan perjalanan diplomasi ke luar negeri. Tapi, dia balik menyerang Aceh bersama Belanda. Akibatnya, seumur masa ia dicap pengkhianat.

Nama aslinya Ramasamy. Suatu ketika singgah di pelabuhan kerajaan Aceh. Ia hanya seorang perantau yang punya keahlian sebagai pesulap. Berbekal keahliannya itu pula, ia mampu menarik simpati masyarakat Aceh di pelabuhan. Keahlian itu akhirnya sampai juga ke istana kerajaan Aceh Darussalam. Dalam sebuah perhelatan, ia diundang untuk menunjukkan kebolehannya tadi. Pemuda pengembara itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Melalui pertunjukan sulapnya, ia berhasil masuk istana. Kesempatan itu digunakannya untuk menarik simpati raja Aceh. Tujuan itu pun berhasil diperolehnya, setelah ia memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad. Sebagai mualaf, biaya hidupnya ditanggung kerajaan.

Foto/Google

Tragisnya, dia semakin mantap menancapkan pengaruh di istana, setelah Sultan Mahmud Alauddin Syah (1871-1874) mengangkatnya sebagai syahbandar di pelabuhan Aceh. Karena jabatan itu, ia pun diberi gelar kehormatan, layaknya seorang bangsawan, Teuku Panglima Maha Raja Tibang Muhammad, yang sepanjang masa dikenang oleh bangsa Aceh sebagai pengkhianat, yang menggunting dalam lipatan. Pengkhianatan Panglima Tibang, bermula ketika ia ditunjuk Sultan Aceh, untuk memimpin utusan kerajaan Aceh yang akan berunding dengan Belanda di Riau. Tujuannya, agar Belanda sebaiknya datang ke Aceh pada Desember 1872. Ini merupakan upaya kerajaan Aceh untuk mengulur-ngulur waktu, sambil mempersiapkan kerja sama dengan Amerika dan Italia dalam menghadapi Belanda.

Setelah utusan sultan pulang dari Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Kerajaan Aceh merangkap Mangkubumi Habib Abdurrahman el Zahir. Persaingan politik pun terjadi. Panglima Tibang bermaksud menancapkan pengaruhnya kepada sultan untuk mengalahkan Habib. Untuk itu ia menuju Singapura.

Dalam perjalanan pulang, ia menghubungi utusan Amerika dan Italia, guna memperoleh bantuan untuk menghadapi peperangan melawan Belanda. Armada Amerika yang berada di Hongkong, di bawah pimpinan Laksamana Jenkis pun setuju untuk membantu Aceh, berperang dengan Belanda. Namun informasi itu akhirnya diketahui Belanda.

Memahami akibat yang lebih jauh andaikata perjanjian antara Aceh dengan Amerika dan Italia terwujud, maka Belanda mendahuluinya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, pada pertengahan Februari 1873 mengirimkan armadanya ke Aceh. Apalagi setelah Belanda mendapat informasi bahwa armada Amerika di bawah pimpinan Laksamana Jenkins akan berangkat dari Hongkong menuju Aceh pada Maret 1873.

Menghadapi situasi seperti itu, para diplomat Aceh di Pulau Penang, Malaysia membentuk Dewan Delapan. Mereka adalah, empat orang dari bangsawan Aceh, dua orang Arab dan dua orang keling kelahiran Pulau Pinang.

Dewan Delapan bertindak mewakili kepentingan Aceh di luar negeri. Di antaranya, menjalin diplomasi dengan negara-negara asing, mencari perbekalan perang dan mengangkutnya ke Aceh dengan menembus blokade angkatan laut Belanda yang sudah menguasai Selat Malaka.

Akhirnya, Rabu 26 Maret 1873, bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah, dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen, yang berlabuh antara Pulau Sabang dan daratan Aceh. Belanda menyatakan maklumat perangnya dengan Aceh. Alasannya, karena Aceh menolak mengakui kedaulatan Belanda. Maklumat perang itu diumumkan Komisaris Pemerintah, merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, F.N Nieuwenhuijzen.

Tindak lanjut dari maklumat perang tersebut, Senin 6 April 1873, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler, dengan kekuatan enam kapal perang, dua kapal angkutan laut, lima barkas, delapan kapal peronda, satu kapal komado, dan lima kapal layar. Melakukan pendaratan di Pante Ceureumen, yang disambut dengan perlawanan rakyat Aceh. Maka perang pun berkecamuk.

Tak tanggung-tanggung, dalam agresi pertama itu, Belanda mengerahkan 168 perwira, 3.198 pasukan, 31 ekor perwira berkuda, 149 pasukan berkuda, 1.000 orang pekerja paksa, 50 orang mandor, 220 orang wanita, 300 orang pelayan. Perang dengan Belanda pun terus berlanjut.

Namun di tengah usaha Aceh melawan agresi Belanda tersebut, pada tahun 1879. Panglima Tibang yang dipercayakan sultan untuk menggalang diplomasi di luar negeri, justeru berbalik arah. Dia meninggalkan rekan seperjuangannya, bergabung dengan Belanda untuk kemudian menyerang Aceh.

Kepercayaan yang diberikan raja Aceh kepadanya pun dibalas dengan pengkhianatan. Tak pelak, nama Panglima Tibang sampai kini tertoreh di sanubari rakyat Aceh sebagai pengkhianat yang tak terampuni. Pelabelan nama Panglima Tibang sebagai pengkhianat nomor wahid pun terus berlanjut sampai kini. Dalam sejarah konflik Aceh, tak terkecuali ditubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Nama Panglima Tibang selalu diberikan kepada orang-orang yang berkhianat atau menyerah kepada pemerintah.

Tentu, sebuah label yang nilai kebenciannya melebihi cap cuak, sipil yang menjadi informan terhadap tentara. Dan, kisah pengkhianatan Panglima Tibang itu, kini menjadi catatan kelam sejarah Aceh.

Nah, lepas dari semua cerita tersebut. Adakah Sengkuni dan Panglima Tibang di sekitar Gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf hingga dia terjerat OTT oleh KPK? Untuk menjawab secara pasti tentu sulit.

Begitupun, dari kebijakan yang muncul, tak susah rasanya mengendus peran para Sengkuni atau Panglima Tibang tadi. Salah satu, para pembisik yang masuk dalam lingkaran kekuasaan Irwandi Yusuf secara tiba-tiba. Kelicikan dan sikap penjilat yang ditunjukkan Sengkuni atau Panglima Tibang tersebut, ternyata mampu meluluhkan hati Irwandi yang dikenal keras itu. Maka, terjadi “pertikaian” dan pergesekan antar sesama tim sukses dan relawan. Sengkuni itu, juga mampu memainkan peran untuk melobi para pihak hingga dia mendapatkan sejumlah fasilitas, tak kecuali proyek.

Di sisi lain, lahirnya Pergub APBA 2018 dan Pergub Cambuk di Lapas, memunculkan kegaduhan antara Pemerintah Aceh versus DPRA sehingga melahirkan Hak Interpelasi. Kondisi ini pun, tak lepas dari peran yang dimainkan pengkhianat bernama; Sengkuni atau Penglima Tibang tersebut. Tapi apa lacur, nasi sudah menjadi bubur. Tinggallah Irwandi sendiri, menanggung nasib dan menghitung hari-harinya di Hotel Prodeo**

Penulis Muhammad Shaleh
Rubrik Editorial, Aceh
Sumber: Modus Aceh

  • 63
    Shares
Berikan Komentar

Mercinews.com - Situs Media Online berita terbaru hari ini, memberikan akses informasi secara mudah, cepat, akurat, dan berkualitas kepada masyarakat luas.

Kategori

Copyright © 2018 Mercinews.com. All Rights Reserved