Waled Husaini: Aceh Mampu Berdiri Sendiri Tanpa Investor

Wakil Bupati Aceh Besar, Tgk. H. Husaini A. Wahab

Banda Aceh, Mercinews.com – Setiap muslim sebagai hamba Allah sejatinya adalah seseorang yang dalam kehidupannya selalu berusaha menyelaraskan sikap, perilaku dan pola pikirnya dengan aturan tuntunan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. ‎

Tunduk dan patuh pada segala aturan hukum dalam syariat Islam yang telah diperintahkan oleh Allah merupakan sesuatu yang tidak boleh ada tawar-menawar.

Dengan segala ketentuan tersebut, aturan hukum Allah harus berada di atas segalanya, dan hukum Allah tidak boleh dikalahkan oleh aturan hukum manusia dengan alasan kebebasan dan hak azasi manusia, karena hak Allah tetap yang paling utama.

Demikian antara lain ditegaskan Wakil Bupati Aceh Besar, Tgk. H. Husaini A. Wahab atau sering disapa Waled Husaini, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (12/9) malam. ‎Pengajian yang dimoderatori Ustaz Mujiburrijal ini mengangkat tema “Kemurnian Bersyariat di Bumi Aceh”‌‎

“Salah satu ketentuan aturan Allah dalam syariat Islam itu adalah melarang kaum perempuan itu duduk berdekatan atau berdampingan di suatu tempat dengan non mahramnya untuk mencari kesenangan baik di tempat tersembunyi atau terbuka minum kopi satu meja. Lalu datang kita protes dan mengatakan aturan Allah itu melanggar HAM, kampungan dan menghambat kebebasan. Itu namanya, kita telah meremehkan aturan Allah yang lebih utama untuk kita patuhi,” jelasnya.

Baca Juga:  Tasawuf Mengobati Penyakit Hati

Pimpinan Dayah Ruhul Fatayat Seulimeum, Aceh Besar ini mengatakan hukum yang dibuat manusia tidak ada yang pasti. Adakalanya hukum-hukum ciptaan manusia memiliki kepentingan politik. Tapi hukum Allah tidak ada kepentingan politik. Bukan hasil seminar, simposium. Tapi keputusan Allah.

“Tidak ada tawar menawar. Syariat bukan punya kita, tapi kita hanya menjalankan saja syariat yang telah diperintahkan. Hukum yang dibuat oleh manusia hanya berjalan saat manusia itu berkuasa. Jika manusia itu tidak lagi berkuasa, mungkin hukum itu sendiri menjadi pengkhianat bagi penguasa.‎ Kita harus berpegang pada hukum yang pasti, yaitu hukum Allah, sedangkan hukum yang dibuat manusia tidak pasti,” tegasnya.
Ditegaskannya, Aceh ini dulu pernah berjaya, makmur dan disegani oleh kawan dan lawan maupun dari luar, ini dikarenakan Aceh menerapkan hukum Allah dengan syariat Islam yang tegas.‎Dalam satu daerah, jika satu kaum di daerah tersebut beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan membuka pintu keberkahan dan kebaikan dari langit dan bumi kemakmuran penduduk.

“Aceh ini dulu pernah berjaya, makmur dan disegani orang-orang luar. Ini dikarenakan Aceh menerapkan Allah. Tangieng agama Allah, Allah akan geungieng geutanyoe,” tegas Waled Husaini.

Waled Husaini juga mengkritik para pihak yang sering mengorbankan banyak orang demi untuk kepentingan politik kelompok kecil di tengah masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Abu Mudi: Lon Keubah Toko, Keunoe Lon Jak Meukat Bak Gaki Limong

Dalam pengajian ini, Waled Husaini juga menjelaskan pentingnya seorang pemimpin mencintai aturan Allah agar ia dicintai rakyatnya. Ia memberi contoh, kenapa di Turki rakyatnya melawan tank untuk membela Presiden Erdogan saat kudeta militer? Hal ini menurut Waled adalah karena mereka mencintai pemimpin, sebab pemimpinnya mencintai Allah.

Menurut Waled, siapa yang taat kepada Allah, maka umat Islam akan taat kepadanya. Maka Waled mengharapkan kepada para pemimpin agar mencintai syariat Islam. Jika bertentangan antara hukum manusia dan hukum Allah, maka menurut Waled hukum Allah lah yang harus dimenangkan. Waled juga menegaskan pentingnya seorang pemimpin memanfaatkan jabatannya untuk membela dan memperjuangkan Islam.

“Untuk apa jabatan kalau tidak menguntungkan bagi agama. Apa yang kita banggakan dengan jabatan jika rakyat kita makan riba, tidak paham agama, sabu-sabu merajalela di tengah masyarakat, di lapas, lembaga pendidikan dan sebagainya, belum lagi kerusakan akidah dan agama di tengah umat sampai suara azan di masjid pun mau dibatasi,” ungkap Waled Husaini.‎

Ditegaskannya, hari ini agama Islam dianggap enteng oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Termasuk orang munafik yang ada dalam Islam. ‎ Tapi ketahuilah, Al-Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih. Islam itu tetap tinggi walaupun banyak yang menghinakan Islam. ‎

“Na ureung peugah….nyan waled menyou kreuh -kreuh that neupeugah haba dicopot jabatan eunteuk. Saya jawab, copot saja, saya tidak takut. Untuk apa saya ada jabatan atau lambang ini dan itu, jika itu semua tidak menguntungkan bagi agama ini, karena jabatan ini harus kita pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah. Jika dengan jabatan ini kita tidak bisa menolong agama Allah, habislah kita kelak tak tahu mau jawab apa ketika ditanya Allah,” terangnya.

Waled Husaini juga mengajak untuk mendaulatkan syariat Islam di Bumi Serambi Mekkah ini, tanpa perlu takut dicap melanggar HAM, menghambat kebebasan atau takut investor tidak masuk.

“Aceh ini mampu berdiri sendiri tanpa perlu investor asal syariat Islam tegak, Allah yang akan bantu jika kita mau patuh pada semua pada perintah dan meninggalkan larangan-Nya, orang Aceh sejak dulu tidak pernah lapar karena menjalankan syariat Allah dengan tulus dan sungguh-sungguh. Syariat Allah tidak akan jatuh di muka bumi ini meskipun banyak orang kafir dan munafik mau menjatuhkannya. Tapi sekarang bagaimana peran kita membela syariat ini sesuai dengan kemampuan kita, biar mendapat bantuan dan pertolongan Allah di dunia dan akhirat kelak,” pungkasnya.‌‎

  • 1.5K
    Shares
Berikan Komentar

Mercinews.com - Situs Media Online berita terbaru hari ini, memberikan akses informasi secara mudah, cepat, akurat, dan berkualitas kepada masyarakat luas.

Kategori

Copyright © 2018 Mercinews.com. All Rights Reserved