Mercinews


Nova Iriansyah: Orang Aceh Perantau yang Sukses

10739005600 0N6A6704 - Nova Iriansyah: Orang Aceh Perantau yang Sukses

Palu,Mercinews.com – Sejak lampau, Orang Aceh terkenal suka merantau, betah dan sukses. Mudah
berbaur, ramah, ulet dan tekun adalah beberapa kunci kesuksesan masyarakat
Aceh di tanah rantau.

Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah,
saat bersilaturrahmi dengan masyarakat Aceh yang bernaung dalam Paguyuban
Kerukunan Masyarakat Aceh di Palu, Selasa (12/2/2019) malam.

“Orang Aceh memang dikenal suka merantau sejak lama. Sikap mudah berbaur,
ramah, ulet dan tekun menjadi kunci sukses para perantau Aceh di negeri orang,”
ujar Nova.

Plt Gubernur juga berbagi kisah tentang pertemuannya dengan puluhan masyarakat
Aceh di Morotai, hingga cerita sukses putra Aceh menjadi legislator di tanah Papua.
Bahkan ada yang menjadi Bupati Malang dan Wakil Gubernur Jawa timur.

“Saat masih menjadi anggota DPR RI, saya pernah berkunjung ke Morotai. Betapa
terkejutnya saya, ternyata ada puluhan masyarakat Aceh di sana. Kalau ASN atau
TNI/Polri mungkin wajar, namun mereka dari sektor swasta. Dan, yang lebih ekstrim
saya jug bertemu dengan Pak Wahidin di Papua. Pak Wahidin adalah putra Aceh
yang sukses menjadi anggota legislatif hingga dua periode. Bahkan beliau menolak
saat dicalonkan untuk periode ketiga,” lanjut Nova.

Beberapa contoh sukses lain juga disampaikan oleh Plt Gubernur. Salah satunya
adalah Hamid, putra Aceh asal Gayo Lues yang sukses menjadi Wakil Gubernur
Jawa Timur.

Baca juga:  Plt Gubernur: Poltekkes Dapat Dikembangkan Menjadi Ekopark

Dalam pertemuan tersebut, Nova juga berjanji akan menindaklanjuti keinginan
Paguyuban Kerukunan Masyarakat Aceh di Palu yang berkeinginan memiliki sebuah
bangunan yang akan dijadikan sebagai tempat bersilaturrahmi dan kegiatan budaya
anggota KMA di Palu.

“Saya sepakat dengan Ketua KMA. Memang harus ada sarana berkumpul bagi
warga masyarakat Aceh dimanapun berada. Hal tersebut penting agar masyarakat
di perantauan selalu guyub, rukun dan kompak. Skema bantuan itu sudah kita
lakukan di surabaya dan Padang. Namun tentu ada aturan mekanisme yang harus
kita lakukan bersama,” imbuh Nova.

Sebelumnya, Saifuddin selaku Ketua KMA di Palu, mengungkapkan saat ini
setidaknya ada 157 KK masyarakat Aceh di Palu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 80
persen di antaranya tersebar di Palu, Sigi dan Donggala, sedangkan 20 persen
sisanya menetap di Poso. Meski sering menggelar pertemuan, namun belum ada
tempat khusus untuk berkumpul.

“Kalau ada bangunan khas seperti Rumoh Aceh di Palu ini, tentu dapat kita jadikan
sebagai tempat berkumpul, bersilaturrahmi dan sebagai rumah singgah bagi warga
Aceh yang berkunjung ke Palu,” ujar pria yang sudah 27 tahun menetap di Palu itu.
Saat ini, Saifuddin menjabat sebagai Sekretaris PUPR di Pemprov Sulawesi Utara.

Dalam silaturrahmi tersebut, Saifuddin turut didampingi oleh Zulkifli. Saat ini, pria
kelahiran Aceh Timur itu menjabat sebagai Kakanwil Hukum dan HAM Provinsi
Sulut. Selain itu juga didampingi alumni Fakultas Teknik Unsyiah, yang saat menjadi
Dosen Fakultas Teknik Universitas Tadulako serta sejumlah pengusaha asal Aceh
yang sukses di Palu.

Baca juga:  Titiek Suharto Resmikan DPW Gerakan Kebangsaan Aceh

Saifuddin juga mengungkapkan, selama ini KMA selalu di undang dalam setiap
kegiatan resmi di Palu. “Kami juga tetap melestarikan adat dan budaya Aceh pada
setiap event keagamaan dan event yang diikuti. Kami jug terharu, karena baru kali
ini dikunjungi oleh Gubernur Aceh.

Kami do’akan Bapak sehat selalu dan bisa
datang lagi untuk meresmikan Masjid Nurul Hasanah saat selesai nanti.”
“Setelah pulang ke Aceh nanti, ingat-ingatlah bahwa ada kami, saudara sesama
Aceh di Palu ini,” pungkas Saifuddin.

Sementara itu, di akhir sambutannya Plt Gubernur Aceh menyatakan, bahwa
silaturrahmi adalah salah satu dari sekian banyak peninggalan besar Rasulullah
kepada umat manusia.

“Saya kutip ini dari Pak Yusuf Kalla saat beliau menjabat sebagai Wapres era Pak
SBY, saat itu beliau berkata, ‘Saya meyakini betul bahwa Tuhan tidak pernah
menutup pintu tanpa membuka pintu yang lain. Selalu ada hikmah di balik bencana’.
Mungkin tidak akan ada silaturrahmi ini tanpa musibah gempa, tsunami dan
likuefaksi. Maka mari kita syukuri pertemuan ini sebagai sebuah hikmah kecil yang
nanti Insya Allah akan disusul dengan hikmah lain yang lebih besar,” imbuh Nova.

loading...

Comments