Mercinews


Fethullah Gulen Sebut Erdogan Telah Menghancurkan Demokrasi

74509020 afp - Fethullah Gulen Sebut Erdogan Telah Menghancurkan Demokrasi
Prime Minister Recep Tayyip Erdogan (left) and Fethullah Gulen were once close allies/bbc.com

WASHINGTON, Mercinews.comUlama Turki yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Fethullah Gulen menuduh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menghancurkan demokrasi Turki dengan mencapai kubu kuat di negara itu, mengambil alih perusahaan-perusahaan besar, dan memberi penghargaan kepada “rekan-rekan konspiratornya”.

“Erdogan telah menghancurkan demokrasi (Turki), yang merupakan kabar baik bagi Turki, dengan memiliki pegangan yang kuat pada negara, menyita perusahaan-perusahaan besar dan menghadiahi rekan-rekan konspiratornya,” kata Gulen, dalam sebuah artikel yang diterbitkan di harian Prancis, Le-Monde, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Zaman, sebuah surat kabar online Turki.

Baca juga:  Erdogan Ajak Rakyatnya Boikot iPhone

Rival Erdogan itu kemudian mengatakan, warga Turki yang berada di bawah pengawasan karena alasan politik dan yang ingin meninggalkan negara itu kehilangan hak-hak dasar mereka dengan menyita paspor mereka.

“Erdogan telah mengambil keuntungan dari reputasi Turki di tingkat internasional sejak 1923, menggunakan hubungan diplomatik dan memobilisasi sumber daya negara untuk melecehkan dan menculik simpatisan di seluruh dunia,” katanya, seperti dilansir Al Arabiya pada Jumat (1/3).

“Dia juga menyatakan saya musuh negara dan menuduh saya dan simpatisan saya sebagai penyebab semua kejahatan dan masalah yang terjadi baru-baru ini di Turki, untuk mempererat cengkeramannya pada kekuasaan dan mempengaruhi opini publik Turki,” ungkapnya.

Baca juga:  Jasad Khashoggi Diduga Dibakar di Oven Raksasa di Rumah Konjen Saudi

Erdogan menuduh Gulen, yang tidak lain adalah mantan sekutunya, berusaha menggulingkan pemerintah dan menyalahkannya karena mendalangi upaya kudeta gagal tahun 2016, yang dilakukan oleh sebuah faksi di dalam Angkatan Bersenjata Turki.

Erdogan mengatakan, Gulen menggunakan pengikutnya di pengadilan dan militer untuk mencoba dan menggulingkan pemerintah. Gulen yang telah tinggal di pengasingan di negara bagian Pennsylvania, 17 tahun membantah terlibat dalam upaya kudeta tersebut.
(esn)

 

Sindonews.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.