Mercinews


Inilah Sosok Jenderal Ahmed Awad Ibn Auf, Sang Pemimpin Kudeta Militer di Sudan

1555049151532 - Inilah Sosok Jenderal Ahmed Awad Ibn Auf, Sang Pemimpin Kudeta Militer di Sudan
Awed ibn Auf - Aljazeera

KHARTOUM, Mercinews.com – Omar al-Bashir, pemimpin Sudan yang berkuasa tiga dekade telah disingkirkan. Ia dan para pembantu terdekatnya ditangkap dan ditahan militer.

Sudan kini diperintah Dewan Militer yang dipimpin Jenderal Ahmed Awad Ibn Auf, yang sebelumnya menjabat Menteri Pertahanan.
Militer Sudan Tangkap Omar Al-Bashir dan Para Pembantu Dekatnya

Tank-tank Muncul di Khartoum, Militer Sudan Depak Presiden Omar al-Bashir
Awad Ibn Auf telah dilantik sebagai Ketua Dewan Militer, Kamis (11/4/2019). Ia didampingi Letjen Kamal Abdel Marouf sebagai deputinya.

Awad Ibn Auf mendepak Omar al-Bashir tiga tahun setelah ia digaet masuk ke lingkaran inti pemerintahan. Aksi protes rakyat Sudan yang tak puas pada rezim Bashir, berlangsung sejak Desember 2018.

Dalam pernyataanya di televisi nasional, Awed Ibn Auf menyatakan, Dewan Militer akan memerintah Sudan selama dua tahun ke depan.

Namun kudeta militer ini ditentang para pengunjukrasa dan aktivis sipil. Mereka menginginkan Sudan diperintah pemimpin sipil.

Nah, siapakah sebenarnya Awed Ibnu Auf? Benarkah ia mengambilallih kekuasaan karena merespon tuntutan kaum sipil Sudan?
Awed Ibn Auf adalah prajurit sejati Sudan. Ia benar-benar tentara tulen yang turut membangun dan memperkokoh militer Sudan sebagai penopang rezim Omar al-Bashir.
Sebelum pensiun, ia menjabat Kepala Staf Gabungan. Awed Ibn Auf menduduki jabatan kepala intelijen militer dan keamanan Sudan sepanjang konflik berdarah di Darfur sejak 2003.

Baca juga:  Sudan Tunjuk Menteri Pertahanan sebagai Pemimpin Sementara

Perang ini menurut laporan PBB, menewaskan lebih dari 300.000 jiwa. Pada 2009, Mahkamah Kriminal Internasional menjatuhkan dakwaan terhadap Presiden al-Bashir atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Darfur.

Sementara Awed Ibn Auf sebagai kepala intelijen, dikenai sanksi oleh pemerintah Washington karena mendukung dan mengelola milisi yang dituduh melakukan genosida dalam konflik Darfur.

Departemen Keuangan AS pada 2007 memblokir aset Awed Ibn Auf, bersama dengan dua pejabat Sudan lainnya, karena peran mereka dalam “memicu kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Darfur.”
Setelah pensiun dari militer pada 2010, sebagai bagian dari perombakan institusional, Ibn Auf mengambil peran diplomatik di Kementerian Luar Negeri.

Dia menghabiskan waktu di pos-pos diplomatik di Mesir dan Oman, sebelum kembali ke jantung pembentukan politik Khartoum pada 2015, ketika dia ditunjuk oleh al-Bashir sebagai menteri pertahanan.

Pada awal Februari, setelah berbulan-bulan demonstrasi besar-besaran di jalan nasional menentang pemerintah al-Bashir, Ibn Auf mengadopsi nada simpatik terhadap orang-orang di jalanan.

Pada 23 Februari, ketika protes berlanjut di seluruh Sudan, al-Bashir menyatakan keadaan darurat, membubarkan pemerintah pusat dan negara bagian dan menunjuk sejumlah tokoh militer sebagai gubernur negara bagian.

Sebagai bagian dari langkah-langkah yang lebih luas, Ibnu Auf diangkat sebagai Wakil Presiden, sementara juga mempertahankan portofolio di Kementerian Pertahanan.

Baca juga:  Sudan Tunjuk Menteri Pertahanan sebagai Pemimpin Sementara

Dalam beberapa jam setelah pidato Awed Ibn Auf, para pengunjuk rasa mengecam tindakan militer itu sebagai “kudeta rezim” dan mengulangi permintaan mereka akan dewan sipil untuk memimpin transisi.

“Perubahan tidak akan terjadi dengan seluruh rezim Bashir menipu warga sipil Sudan melalui kudeta militer,” Alaa Salah, anggota terkemuka gerakan protes, mengatakan di Twitter.

“(Dia) di antara para pemimpin politik yang telah mendukung Presiden al-Bashir sejak lama dan untuk seluruh karir pasukannya. Sulit untuk melihat ini sebagai transisi menuju tahap baru pemerintahan inklusif,” tuding Ahmed Soliman, aktivis di Chatham House.
Jean-Baptiste Gallopin, seorang peneliti Sudan di Universitas Yale, mengatakan, terlepas dari didepaknya Omar al-Bashir dari kursi presiden, kekuasaan Sudan tetap ada di tangan rekan-rekannya.

“Rezim sama seperti kemarin, dengan pengecualian beberapa tokoh dekat al-Bashir yang telah ditahan,” katanya kepada Al Jazeera.

“Jenderal yang telah mengambil alih dalam kudeta istana ini, Awad Ibn Auf, telah disetujui oleh AS karena mengatur kejahatan perang di Darfur, seperti halnya Omar al-Bashir yang baru saja dipecat,” kata aktor Hollywood, George Clooney.

Clooney dikenal lama sebagai juru kampanye hak asasi manusia di Sudan. Ia menyerukan masyarakat internasional agar memastikan kepemimpinan transisi di Sudan inklusif.(Tribunjogja.com/ Aljazeera/Sputniknews/xna)

loading...

Comments