Mercinews


Irwandi Yusuf Sebut Pernah Tolak Beri Persetujuan Izin PT Linge Mineral

1555760951551 - Irwandi Yusuf Sebut Pernah Tolak Beri Persetujuan Izin PT Linge Mineral
Irwandi Yusuf

Jakarta, Mercinews.com – Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf menegaskan, dirinya pernah menolak memberikan persetujuan izin produksi kepada PT East Asia Mineral.

PT East Asia Mineral adalah pemegang saham 80 persen pada PT Linge Mineral, perusahaan tambang yang beroperasi di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Pengakuan Irwandi Yusuf itu disampaikan sehubungan hebohnya penolakan masyarakat terhadap izin usaha pertambangan di bumi Aceh, termasuk Kecamatan Linge, Aceh Tengah.

“Tidak sah. Hana (tidak ada) rekomendasi gubernur. Pernah mereka (PT East Asia dan Bupati Aceh Tengah) datang menghadap saya antara 2009 dan 2010, minta persetujuan Izin Produksi. Saya tolak,” kata Irwandi Yusuf.

“Saya katakan untuk memberi makan 5 juta rakyat Aceh kami belum merasa perlu menggaruk simpanan emas kami dalam perut bumi. Masih banyak resource lain untuk kehidupan rakyat,” tambah Irwandi Yusuf.

Pernyataan Irwandi Yusuf tersebut disampaikan melalui pesan yang dititipkan pada rekannya yang berkunjung ke rumah tahanan KPK. Irwandi Yusuf saat ini ditahan terkait dengan proses hukum tindak pidana korupsi.

Irwandi Yusuf menambahkan, setelah menolak memberi persetujuan izin PT East Asia, selang beberapa waktu kemudian datang lagi delegasi PT East Asia, tapi tetap ditolaknya.

“Jadi, si bupati sepertinya sudah duluan bikin surat izin, baru kemudian menghadap rame-rama kepada saya untuk minta rekom,” ujarnya.

Irwandi Yusuf mengatakan, masa pemerintahannya pada 2007-2012, mengusulkan tutupan hutan 60-65 persen, tapi kemudian dikoreksi menjadi 45 persen pada pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf.

Baca juga:  Sidang Praperadilan Irwandi Yusuf Digelar 10 September Mendatang

“Dulu aku mengusulkan tutupan hutan 60 atau 65% dalam rencana tata ruang Aceh. Tapi kemudian dikoreksi oleh pemerintahan setelahnya,” ujar Irwandi.

Akibatnya, beberapa kawasan hutan lindung berubah jadi areal penggunaan lain atau APL.

“Tapi untungnya, Menhut dan LH menolak perubahan tersebut,” tutup Irwandi Yusuf.

Sebelumnya, dari Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah, Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko) mempertanyakan peran dan fungsi Wali Nanggroe dalam upaya menyelamatkan hutan Aceh, khazanah kekayaan Aceh dan pertambangan energi Aceh.

Wali Nanggroe punya fungsi dan peran sebagaimana diatur dalam Qanun Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Wali Nanggroe.

“Dalam Qanun ini jelas di sebutkan ada Majlis Hutan Aceh, Majlis Khazanah Kekayaan Aceh dan Pertambangan Energi Aceh untuk melindungi kegiatan eksploitasi hutan Aceh,” kata Koordibator Jang-Ko, Maharadi.

Harusnya Paduka Yang Mulia, Wali Nanggroe bersikap menolak saat kekayaan Aceh dikuasi oleh asing.

Kehadiran PT Linge Mineral Resources dan PT Emas Mineral Murni (PT EMM) yang beroperasi di Nagan Raya dan Aceh Tengah, merupakan jenis perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA).

Jang-Ko juga meminta Plt Gubernur Aceh juga mengakomodir sikap penolakan dan mencabut izin penambangan pengolahan biji emas oleh PT Linge Mineral Resources proyek Abong di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Baca juga:  Irwandi Yusuf: Steffy Burase Hanya Sebatas Teman

Disebutkan, PT Linge Mineral Resource, mendapatkan IUP Eksplorasi pada tahun 2009 dengan nomor 530/2296/IUP-EKSPLORASI/2009 dengan luas area 98.143 hektare, komoditas Emas DM, di Kecamatan Linge dan Bintang Aceh Tengah.

IUP Eksplorasi diterbitkan oleh Bupati Aceh Tengah. Status IUP Eksplorasi PT Linge Mineral Resource adalah CNC. Dari luas tersebut 19.628 hektare berada di KEL & HL, sisanya 78.514 hektare Hutan Produksi.

Kemudian pada 4 April 2019, PT. Linge Mineral Resource menerbitkan pengumuman rencana usaha dan/atau kegiatan dalam rangka studi AMDAL, dengan data sebagai berikut:

– Jenis rencana usaha: Penambangan dan Pengelohan Bijih Emas Dmp
– Luas: 9.684 Hektare
– Produksi: maksimal 800.000 ton/tahun
– Lokasi: Proyek Abong, Desa Lumut, Desa Linge, Desa Owaq dan Desa Penarun, Kecamatan Linge, Aceh Tengah

“Kami menolak rencana penambangan biji emas itu, selain merusak lingkungan dan mencemari air dengan limbah, kehadiran perusahaan tidak bermanfaat untuk masyarakat. Kami tidak mau hutan dan alam tempat kami menggantungkan hidup hancur, kami tidak mau situs sejarah Linge hancur, itu tempat sakral suci orang Gayo, Linge itu rumah peradaban kami. Indentitas kami,” tukas Maharadi.

 

 

Sumber: Serambinews

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.