Mercinews


Haji Uma Adu akting dengan Artis Indonesia di Sinetron Religi “Masjid yang Tak Dirindukan”

56935124 3194047643954628 1904674642652561408 n - Haji Uma Adu akting dengan Artis Indonesia di Sinetron Religi “Masjid yang Tak Dirindukan”
Foto: Fanpage Facebook Haji Uma

Jakarta, Mercinews.com -H. Sudirman alias Haji Uma, anggota DPD RI asal Aceh yang berpeluang besar untuk terpilih kembali pada Pemilu 2019 ini, terlibat dalam sinetron religi-komedi “Masjid yang Tak Dirindukan”, tayang disalah satu stasiun televisi swasta nasional, ANTV.

Hal tersebut diketahui dari postingan foto proses syuting sinetron dimaksud di Fanpage Facebook Haji Uma beberapa waktu sebelum Pemilu 2019 lalu. Difoto tersebut, Haji Uma terlibat adu peran dengan artis top nasional, Reza Rahardian yang dikenal bermain dibanyak film layar lebar, salah satunya Habibi dan Ainun.

“Dipercaya memerankan Pak RT dan beradu akting dengan artis Reza Rahardian dalam serial sinetron religi MASJID YANG TAK DIRINDUKAN, tayang di ANTV setiap pukul 19.00 WIB”. Demikian caption yang tertulis pada postingan di Fanpage Haji Uma, beberpa waktu lalu.

Saat di konfirmasi langsung, senator asal Aceh pemeran Haji Uma dalam film komedi Aceh populer “Eumpang Breuh” ini juga membenarkan keterlibatan dirinya dalam sinetron dimaksud bersama sejumlah artis top nasional, seperti Reza Rahardian, Roy Marten, Oni “Kabayan” Suratman dan lainnya.

“Alhamdulillah, benar. Saya dipercaya berperan sebagai Pak RT dalam sinetron Masjid yang tak Dirindukan, mulai dari episode 27 yang mungkin tayang hari ini (Minggu-red). Dengan latar belakang saya sebelumnya, tentu ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri dimana dapat beradu peran dengan sejumlah artis papan atas nasional”, ujar Haji Uma pada Minggu (21/4).

Baca juga:  Di Media Sosial Lagi Heboh Soal Artis Aceh Ady Bergek Caleg DPRA

Haji Uma menjelaskan bahwa keputusan ikut terlibat dalam sinetron tersebut karena bersifat sinetron religi, kental dengan unsur edukasi, pesan moral dan keagamaan yang dibumbui oleh unsur komedi. Melalui sinetron ini dirinya berharap akan dapat ikut mencerahkan dan juga menghibur masyarakat.

Sementara itu, terkait dengan keterlibatannya dalam sinetron tersebut dan juga kapasitasnya sebagai anggota DPD RI asal Aceh saat ini. Senator yang populer dipanggil Haji Uma ini memastikan tidak akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya.

“Tugas dan tanggung jawab kepada rakyat Aceh adalah prioritas utama dan yang terpenting, Insya Allah semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Karena sebenarnya saat menjabat sebagai anggota DPD RI asal Aceh, sebelumnya juga pernah beberapa kali syuting film di Aceh dan jadwalnya disesuaikan tanpa berpengaruh terhadap aktifitas tugas. Sama halnya dengan ini”, ungkap Haji Uma.

Diakhir penyampaiannya, Haji Uma berharap sinetron ini dapat menjadi tontonan menarik dan menjadi tuntunan bagi masyarakat, termasuk di Aceh. Karena banyak pesan moral dan inspirasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mengunjungi dan beribadah di rumah Allah.

Baca juga:  Haji Uma Minta Pemerintah Daerah Serius Sikapi Aspirasi Rakyat Terkait PT EMM

Sinetron religi “Masjid yang Tak Dirindukan” ini sendiri dibawah naungan rumah produksi Tobali Putra Production dengan sutradara Ruli Wanisar ini melibatkan sejumlah artis top papan atas Indonesia, antara lain Reza Rahardian, Roy Marten dan Donita. Sinetron ini tayang di ANTV sejak 25 Maret 2019 setiap pukul 19.00 WIB setiap harinya.

Sementara terkait perannya sebagai Pak RT, Haji Uma membeberkan bahwa dalam alur ceritanya, Pak RT menjadi sosok yang banyak dilibatkan dalam sejumlah kejadian dikampung tersebut. Salah satunya saat terjadi kehilangan kotal amal dan mikrofon di Masjid Nurul Madina yang membuat Reza Rahardian yang berperam sebagai ustad di masjid tersebut mendapat kekerasan dari pelaku yang berujung ke kantor polisi.

Haji Uma berharap dengan keterlibatannya pada sinetron berskala nasional menjadi pintu masuk bagi eksistensi kedepan dikancah perfileman nasional. Dengan demikian, secara perlahan nantinya dapat menjadi ruang atau media untuk mempromosikan kultur keacehan di pentas perfileman dan pertelevisian nasional.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.